<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581471201873128981</id><updated>2012-02-17T10:52:20.050+07:00</updated><title type='text'>Cerpen - nya Mugi</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mugi-cerpen.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581471201873128981/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mugi-cerpen.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>mugi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02840193125720902474</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/mugigede.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>11</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581471201873128981.post-8378745625152557536</id><published>2008-10-07T19:10:00.010+07:00</published><updated>2010-07-01T00:34:17.352+07:00</updated><title type='text'>TELAGA PARA PEMIMPI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Firabunga.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 105px; height: 75px;" src="http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Firabunga.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;By: Alika Syafira Indreswari&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;SDN 02 Menteng, Jl. Tegal No. 10&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayu adalah seorang remaja yang belum lama ditinggal mati kedua orangtuanya. Dia mencari nafkah dengan menyumbangkan tenaganya untuk siapa saja yang membutuhkan. Pernah Bayu memandikan kuda, kerbau, membersihkan kandang, mengangkat dan membawakan barang belanjaan orang-orang di pasar untuk diangkat dengan gerobak delman, dan banyak lagi usahanya demi sesuap nasi penyambung hidup. Kedua orangtuanya tiada mewarisi apa-apa, sehingga Bayu hanya berjalan tanpa arah, dari desa satu ke desa lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengembaraannya, dia sampai pada sebuah desa yang aneh, dimana anak-anak mudanya banyak yang terlihat duduk melamun bermalas-malasan, padahal orang-orang tuanya Nampak melakukan banyak pekerjaan. Anak muda yang diperhatikannya sedang asik melamun dan sesekali tersenyum sendiri. Hal ini membuatnya bergidik ngeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Ah, nama desa Sugih Waras ini sungguh tidak sesuai dengan penduduknya.” Gumam Bayu setelah meninggalkan seorang bapak yang baru saja ditanyai tentang nama desa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lebih baik aku melanjutkan perjalanan menuju desa lain yang ada di seberang hutan itu, mumpung hari masih siang begini” Niatnya mantap sambil menatap hutan yang berada di sisi timur desa Sugih waras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tepi desa di pinggir hutan, Bayu masih saja menemui anak-anak muda seusianya yang melamun dan tertawa-tawa sendiri. Bayu terus melangkahkan kakinya memasuki hutan yang nampaknya tidak terlalu luas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menempuh perjalanan setengah dari luasnya hutan, Bayu melihat sebuah telaga yang airnya jernih dan dikelilingi pohon-pohon besar yang berdaun lebat. Pada sisi kiri telaga ada sebuah bukit kecil yang menyerupai dinding batu. Dari tengah dinding batu tersebut, mengalir air yang menyerupai mata air. Setelah puas mengamati sekeliling telaga dari jauh, Bayu memutuskan untuk membersihkan tubuhnya dengan berendam dalam air telaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayu berenang kesana kemari dengan senang hati sambil menikmati keindahan bunga-bunga di tepi telaga. Pikirannya menerawang ke masa lalu, saat kedua orang tuanya masih ada, mereka pernah mengajak dan megajari Bayu berenang di sungai yang ada di belakang gudang tua rumah majikan kedua orangtuanya. Hati Bayu gundah, dia mengaharapkan lagi kehadiran orangtuanya untuk merasakan kebahagiaan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Bayu mendengar suara seperti orang sedang bercakap di belakangnya. Bayu membalikkan badannya ke arah pohon pinus tempat dia meletakkan pakaiannya. Awalnya Bayu tidak yakin saat melihat dua orang yang nampaknya sedang mengumpulkan kayu bakar yang banyak berserakan di dekat pohon-pohon pinus. Namun setelah diamati dengan seksama, sontak Bayu berenang ke pinggir secepat-cepatnya sambil berteriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayahhhhh..!! Ibuuu..!! Ini Bayuuu..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerinduan pada kedua orangtuanya membuat Bayu berlari seperti orang gila saat berada di tempat dangkal pinggiran telaga. Begitu mencapai daratan, Bayu langsung menuju kedua orang tuanya. Bayu bingung bercampur heran, kemana perginya ayah dan ibunya. Mengapa tiba-tiba mereka menghilang seperti ditelan bumi dan hanya meninggalkan tumpukan ranting-ranting kecil kayu bakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diambilnya sebatang kayu yang paling besar, dipeluknya kayu tersebut, dan Bayu menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayu terus menangis, hingga tidak disadari olehnya datang seorang yang sudah sangat tua berjalan tertatih-tatih mendekatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak muda, mengapa engkau menangis, dan mengapa pula kau memeluk kayu tersebut?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayu kaget, ditatapnya pak tua tersebut dari atas sampai kaki. “Hmm, pak tua ini pasti manusia, karena kedua kakinya menginjak bumi.” Gumam Bayu dalam hati, namun tak juga dia menjawab dan masih saja menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kau tangisi anak muda? Itu hanya kayu bakar yang banyak kau temui di sepanjang hutan ini.” Tanya pak tua tadi yang sudah duduk di samping Bayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa kali ditanya, barulah Bayu memberikan jawaban "Maaf Kek, tapi baru saja saya melihat kedua orangtua saya di tepi telaga ini, namun ketika saya berlari mengejar mereka, tiba-tiba saja mereka menghilang. Kalau ini semua cuma mimpi, mengapa kayu bakar ini yang tadi dipegang orang tua saya, masih ada." cerita Bayu masih dilumuri kesedihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sang Kakek langsung menggamit tangan Bayu dan mengajaknya ikut ke tempat tinggal yang tak jauh dari telaga. Sementara Bayu hanya bisa pasrah bagai kerbau dicucuk hidungnya langsung mengikuti ajakan kakek tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama dalam perjalanan, Bayu merasa aneh, mengapa Ia mau saja mengikuti ajakan kakek sedangkan dalam pikirannya masih tersimpan banyak pertanyaan atas peristiwa yang baru saja ia alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berapa lama sampailah mereka di pinggir sungai kecil berair jernih yang dapat memperlihatkan batu-batu beraneka warna di dasarnya. Sedang asiknya Bayu memperhatikan batu-batu tersebut, sampai-sampai ia tak sadar ketika kakek yang menuntunnya berhenti sambil melepaskan pegangan tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masuklah dulu Nak.! Nanti akan kakek terangkan sejelas-jelasnya tentang apa yang baru engkau alami."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa diminta kedua kali, Bayu masuk ke dalam pondok bambu yang meskipun kecil, namun memiliki sebuah dipan cukup besar di dalamnya dan langsung merebahkan diri dengan menyilangkan kedua tangan menutupi dahinya. Sementara dari mulut sang kakek terdengar senandung yang lamat-lamat namun menggores kalbu, menghantarkan kepiluan mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan kau terus hanyut Nak! Tidak satupun di dunia ini yang dapat mengembalikan masa lalu. Jadi sekarang bangunlah! Kakek akan mulai ceritanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayu bangun dengan malas, dilihatnya sang kakek sudah pula duduk di sampingnya sambil menggeser tubuhnya untuk bersandar pada dinding bambu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini sebuah kisah sangat lama yang pernah kakek dengar saat kecil, dan kebenaran cerita ini tidak dapat dibuktikan karena tidak satupun tersisa peninggalan yang dapat membuktikannya, kecuali reruntuhan bangunan di atas bukit sana" tangan kakek menunjuk ke arah bukit kecil yang menyerupai bentuk kepala dan tubuh seekor gajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Syahdan di atas bukit itu pernah berdiri sebuah kerajaan kecil yang dipimpin seorang raja. Sang raja hanya memiliki seorang istri yang telah wafat saat putrinya masih berumur belasan. Meskipun putrinya sangat cantik, namun kepergian ibunya membuat luka tersendiri dalam hatinya yang selalu dirundung duka, sehingga kecantikan sang putri tersaput kepucatan. Sang raja tidak dapat berbuat banyak untuk membantu putrinya menemukan keceriaan." Bayu memperhatikan wajah kakek yang nampak murung saat bercerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" class="fullpost" &gt;bersambung...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581471201873128981-8378745625152557536?l=mugi-cerpen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mugi-cerpen.blogspot.com/feeds/8378745625152557536/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581471201873128981&amp;postID=8378745625152557536&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581471201873128981/posts/default/8378745625152557536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581471201873128981/posts/default/8378745625152557536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mugi-cerpen.blogspot.com/2008/10/telaga-para-pemimpi.html' title='TELAGA PARA PEMIMPI'/><author><name>mugi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02840193125720902474</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/mugigede.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581471201873128981.post-5708712992892016353</id><published>2007-12-27T16:34:00.000+07:00</published><updated>2007-12-27T16:46:52.942+07:00</updated><title type='text'>KARUNIA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Niken,&lt;br /&gt;Jika memang ada cinta sejati, maka ia adalah cinta yang terdiri dari dua orang saja dan tak ada tempat buat orang ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah memang kugenggam sangat erat, tapi cinta itu mati.&lt;br /&gt;Kini kugenggam longgar, cintamu menjauhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niken,&lt;br /&gt;Jika keutamaan dari cinta adalah pengorbanan, mengapa;&lt;br /&gt;Aku haturkan bunga padamu,&lt;br /&gt;tapi kau bilang masih&lt;br /&gt;Aku persembahkan resahku padamu,&lt;br /&gt;tapi kau bilang hanya&lt;br /&gt;Aku berikan darahku padamu,&lt;br /&gt;tapi kau bilang cuma&lt;br /&gt;Aku bawakan mimpiku padamu,&lt;br /&gt;tapi kau bilang meski&lt;br /&gt;Aku kirimkan dukaku padamu,&lt;br /&gt;tapi kau bilang tapi&lt;br /&gt;Aku serahkan mayatku padamu,&lt;br /&gt;tapi kau bilang hampir&lt;br /&gt;Aku pasrahkan arwahku padamu,&lt;br /&gt;tapi kau bilang kalau&lt;br /&gt;Tanpa apa Aku datang padamu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Niken,&lt;br /&gt;Jika kaugeser tempatku karena asmara dan bukan oleh bara cemburu,&lt;br /&gt;semoga ia memberikan kidung lembut. Semoga asmara menebarkan aroma seribu bunga, semoga ia merona indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, biarkan Aku sepanjang masa&lt;br /&gt;Berlutut di atas hamparan duka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niken,&lt;br /&gt;Sungguh cinta sekejam kematian dan cemburu sekejam kuburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari yang pernah di dekatmu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah Kamu menyalahkan Aku atas peristiwa ini?” Tanya Lia padaku, saat mengembalikan surat yang kuperlihatkan padanya. Setelah lebih dari sebulan, suratku kembali dengan tambahan dua buah garis besar yang bersilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Awalnya iya!” Jawabku. “Tapi kini Aku tidak tahu lagi. Aku tidak tahu siapa yang salah, tidak tahu apa yang harus kuperbuat, bahkan tidak tahu lagi apa yang kupikirkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu tidak menggunakan pikiran sudah sejak lama, yang kutahu sejak kaukenal Niken, pikiranmu hanya berputar pada mimpi.” Ucap Lia dengan bersungut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho? Kenapa sekarang jadi Kamu yang menyalahkan Aku?” Aku tersinggung. “Kan Kamu yang mengusulkan kita cari hadiah di Mal tersebut? Kamu yang mengusulkan Kita cari perlengkapan kosmetik buat Niken. Kemudian Niken melihat kita jalan bergandengan.” Balik kuserang Lia dengan kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, memang betul itu semua Aku yang mengusulkan, tapi apa Kamu tahu mengapa Aku menyarankan membeli kosmetik?” Tanya Lia yang sepertinya tidak juga paham, bahwa saat ini aku malas berpikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mana Aku tahu? Pokoknya Kamu yang mengusulkan itu!” Jawabku kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan itu salah satu contoh Kamu tidak bisa lagi berpikir.” Ucap Lia enteng. “Apakah Kamu juga tahu mengapa wanita lebih suka tampil cantik daripada tampil cerdas?” Kembali Lia bertanya. “Karena laki-laki lebih suka melihat wanita yang cantik daripada wanita yang cerdas!” Lanjut Lia tanpa menunggu jawabanku. “Jadi, laki-lakilah yang membentuk wanita-wanita kebanyakan, hanya ingin cantik, seksi, menggemaskan dan menggairahkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi Niken tidak begitu, dan Aku juga bukan laki-laki seperti itu!” Bantahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu katamu! Tapi tidak tidak menurut orang lain. Apa Kamu buta, tidak bisa melihat dan mendengar nasihat baik dari teman-teman sekelas? Mereka lebih dulu kenal Niken dan mereka tahu gaya hidup Niken seperti apa. Sementara Kamu yang baru kenal sesaat sudah langsung jatuh cinta, bahkan bangga bisa kencan dengannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang teman-teman kuliah sudah banyak menasihati dan mencoba memberitahu soal Niken yang senang berganti teman kencan. Sebagai mahasiswa pindahan yang langsung ikut di semester ketiga, Aku sudah memiliki banyak teman yang sebagian adalah teman-temanku di SMA dulu, termasuk Lia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi Niken marah dan memutuskan hubungan denganku karena cemburu, bukan karena itu!” Jawabku ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu alasan!”&lt;br /&gt;“Dia sudah tahu tentang Kita sebelum Kamu pindah ke kampus ini, dan Dia juga tahu semua tentangmu, kecuali tentang Mira.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, kenapa Kamu sebut-sebut tentang Mira? Apa Kamu cerita padanya tentang hubunganku dengan Niken?” Ada sedikit kecemasan di hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buat apa Aku cerita tentangmu. Itu hanya akan menyakiti hatinya. Meski Aku tahu Mira tetap akan memaafkanmu seperti yang sudah-sudah.” Jawab Lia yang melegakan hatiku, sekaligus menyesakkan. Aku termenung sesaat mengingat Mira. Lima bulan sudah, aku tidak berkunjung ke rumahnya dengan alasan sibuk mempersiapkan ujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah..! Mengapa Aku jadi begitu bodoh?” batinku. Kemudian terlintas di benakku, Mira yang penuh kelembutan, pengertian dan kasih sayang seperti ibuku sendiri. Hal ini rupanya yang membuatku bosan, tidak ada letupan, tidak ada tantangan, hanya ketenangan dan ketentraman. Tapi apa yang sesungguhnya kucari?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dengar Lia masih terus bicara, entah apa yang dikatakannya padaku. Aku hanya menyaksikan Niken lewat di depanku, duduk di sisi kiri depan dalam sedan biru mengkilat. Di atas pagar besi jembatan penghubung kampus dengan jalan raya, aku duduk masih terus mendengarkan omongan Lia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei! Kamu masih sadar?” bentak Lia. Ah Kamu Lia, ternyata kamu juga cantik meski berpostur kecil. Kemudian pandanganku berkeliling ke kanan-kiri, Ada ibu dosen fisika yang cantik, Mbak Lela pelayan kantin juga cantik, kakak kelas, adik kelas semua terlihat cantik. Ya Tuhan, mengapa karunia kecantikan Engkau berikan kepada banyak wanita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei!” Kembali Lia membentak sambil menepuk bahu yang hampir membuatku jatuh terjengkang ke belakang. “Sekarang Kamu mulai seperti orang gila, senyum dan geleng-geleng kepala seperti orang bingung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu yang gila! Hampir saja Aku tercebur di sungai ini.” Aku mengomel dengan masih berpegang pada tonggak beton penyangga besi, yang justru membuat Lia tertawa. Sepertinya dia akan terus tertawa kalau aku tidak segera berdiri turun dari dudukku di atas besi jembatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya sudah yuk Kita pulang! Kamu mau pulang atau ke tempat kost?” Tanya Lia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum tahu nih.” Jawabku seraya mengeluarkan handphone dari dalam tas ransel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oke deh.. Aku Cuma mengingatkan: Mungkin Tuhan menginginkan Kamu bertemu dengan beberapa orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, Kamu harus mengerti bagaimana berterima kasih atas karunia itu.” Ucap Lia sambil matanya memperhatikanku memencet tombol handphone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kirim sms buat siapa?” Tanyanya curiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buat Niken.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langsung saja wajah Lia cemberut, kemudian berlalu pergi tak lagi menghiraukan aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Niken, terima kasih atas pelajaran darimu, juga terima kasih kamu kembalikan suratku. (Semoga belum kamu fotokopi).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sms kukirimkan, aku berlari mengejar Lia. Baru setengah perjalanan menuju Lia, handphoneku berdering. “Hm.. tumben Niken balas smsku?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata dari Mira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan yang cukup untuk membuatmu baik hati, cobaan yang cukup untuk membuatmu kuat, kesedihan yang cukup untuk membuatmu manusiawi, pengharapan yang cukup untuk  membuatmu bahagia dan uang yang cukup untuk membeli segala keperluanmu. Penuh cinta selalu -Mira-&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku tahu kemana tujuanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 24 Desember 2007&lt;br /&gt;Mugi Subagyo&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581471201873128981-5708712992892016353?l=mugi-cerpen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mugi-cerpen.blogspot.com/feeds/5708712992892016353/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581471201873128981&amp;postID=5708712992892016353&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581471201873128981/posts/default/5708712992892016353'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581471201873128981/posts/default/5708712992892016353'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mugi-cerpen.blogspot.com/2007/12/karunia.html' title='KARUNIA'/><author><name>mugi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02840193125720902474</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/mugigede.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581471201873128981.post-6447785777875002714</id><published>2007-12-12T17:32:00.000+07:00</published><updated>2007-12-12T17:46:03.056+07:00</updated><title type='text'>PAHLAWAN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namanya Pak Soleh. Mungkin karena postur tubuhnya yang luas, hasil perkalian dari panjang dengan lebar, Ia mendapat  sebutan “Torren”, yaitu nama benda yang digunakan sebagai tempat penampungan air di atas rumah, jadi panggil saja Ia dengan Pak Torren. Dia tinggal di sebuah kota yang gila; tempat korupsi jadi keutamaan mencapai kemakmuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pak Torren benci pegawai negeri, yang berkantor di ruangan berkursi kayu dan rotan yang sudah kusam, meja kayu yang dipenuhi bekas api rokok. Di atas lemari besi panjang yang dinamakan “filling cabinet” itu berderet map kertas dalam “box file” yang tidak jelas apa fungsinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia benci pekerjaan itu, dan dengan perasaan yang dirundung kebencian, disenandungkan pertanyaan pada Tuhan yang menarik garis takdirnya justru ke pekerjaan itu; menjadi pegawai negeri, di seksi kependudukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul satu siang, kesempatan untuk melepas unek-unek di kepalanya datang. Mereka makan siang di kantin belakang kantor walikota. Dan setelah berbasa-basi, mulai disampaikannya pandangan masyarakat yang meremehkan pegawai negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa salahnya pegawai negeri? Kalau-pun digambarkan sebagai sebuah jabatan yang hanya dipenuhi pengabdian dengan secuil kesejahteraan, bukankah justru pandangan ini keliru? Pegawai negeri bukanlah orang-orang yang lemah, bukan orang-orang sepele yang patut diremehkan. Pegawai negeri yang menentukan status kependudukan, status rumah seseorang, menentukan pajak, ijin usaha para pengusaha, surat keterangan berkelakuan baik, surat sengketa tanah, surat nikah atau talak, nasib sekolah anak-anak. Jadi Kita tak bisa diremehkan, kalau-pun ada, Mereka dapat Kita anggap sebagai orang yang kurang menyadari diri.” Sebuah jawaban didapat dari Pak Walikota, saat Ia tanyakan pendapatnya berkenaan dengan opini yang berkembang di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang sebagai pegawai negeri, Kita terikat birokrasi.” Lanjut Pak Walikota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi ini adalah suatu keniscayaan, bahwa tak ada seorang-pun mampu mengelakkannya. Bukankah sudah banyak usaha untuk menyingkirkannya, namun hasilnya adalah sebuah lelucon. Lantas siapa yang salah? Pegawai Negeri? Birokrasi? Atau orang-orang yang ingin menghapus birokrasi?” Jawabannya kali ini dirasakan sangat memojokkannya. Entah apa Ia yakin dengan jawaban ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi Pak, Saya pikir ada baiknya jika kita mau berhenti sesaat guna mendengarkan keinginan masyarakat kita.” Pak Torren menyampaikan pendapatnya dengan pikiran menerawang pada banyak kejadian tidak adil yang telah terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka bilang bahwa birokrasi adalah sumber kekakuan, kemacetan segala urusan, jadi, apa tidak sebaiknya Kita telaah kembali aturan yang ada untuk diperbaiki?” bujuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan berpikir! Jangan gunakan perasaan! Taati saja peraturan yang ada, maka Kamu senantiasa benar dan sudah pasti selamat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ahh.. ini jawaban atau sebuah doktrin” pikir Pak Torren.&lt;br /&gt;Tidak-kah Ia merasa seperti yang kurasakan? Perlakuan terhadap masyarakat yang tidak mampu, mulai dari penggusuran kios-kios kecil di sepanjang jalan, pungutan liar bila ada orang yang ingin mengurus ijin atau surat-surat. Padahal dari pedagang kaki lima itu, kita tarik setoran bertitel retribusi. Dan masyarakat, kita bebani kewajiban untuk memberikan data diri juga ijin untuk melakukan banyak hal. Bukankah mereka yang justru menggerakkan roda ekonomi, dan sebagai catatan: Mereka tidak memperoleh pekerjaan itu dari Kita, dari Birokrasi atau dari pemerintah, yang selalu berkampanye untuk mengurangi pengangguran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya! Mereka bangkit dan berdiri dengan kaki sendiri, dan Kita tinggal memerasnya dengan berbagai peraturan. Tidak-kah Ia sadari bahwa adat dunia balas membalas? Apakah tenang hatinya setelah mendapat uang banyak hasil manipulasi yang dilakukan dengan bantuanku selama ini? Dana pemerintah, dana bantuan banjir, dana pendidikan, dan banyak lagi dana bantuan telah sukses dilencengkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua pertanyaan itu tinggal menjadi pertanyaan, karena Pak Walikota memberi isyarat tangan menyudahi pembicaraan sambil berlalu. Tinggal Pak Torren termangu dengan kegundahan, hingga air diminum rasa duri, nasi dimakan rasa sekam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, apa sikapku sekarang? Menerima dan menjalankan doktrin itu? Rasanya seperti membasuh muka dengan air liur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tidak, apa Aku harus meninggalkan pekerjaan yang telah sepuluh tahun kujalani? Yang juga telah memberikan sebuah rumah berukuran 5x10 meter persegi dengan dua lantai. Sebuah rumah yang kubangun dari kumpulan amplop pemberian dari pimpinan. Otaknya tumpul, banyak ucapan berebut bicara dalam bathin bagai angin berputar dan ombak bersabung; tak jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam tiga siang; seperti biasa Ia benahi meja kerja, kemudian pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari sebelumnya, Pak Torren bukanlah orang yang penuh pertimbangan antara akal dan perasaan. Dia adalah satu contoh dari tipikal masyarakat di negrinya, hanya saja, Ia selalu mengerjakan dengan baik segala tugas yang diembannya, dan kesetiaan pada pimpinan yang membuatnya memperoleh kepercayaan. Baginya, sekali beban terpasang di bahu, maka Ia junjung di kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, Jumat siang jam sebelas lewat. Kantornya kedatangan seseorang yang terkesan “penting”. Setelah berbicara beberapa saat di ruang kerja pimpinan, orang tersebut keluar dan berpapasan langsung dengannya. Sambil tersenyum Ia bertanya: “Maaf Pak, Dimana letak Mesjid terdekat ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, Bapak keluar, lalu belok kiri, tidak jauh kemudian ada Mesjid, letaknya di sisi kanan jalan, Bapak tinggal menyeberang” Jawab Pak Torren seraya menunjuk dengan ibu jarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, begitu. Terima kasih Pak” Orang Penting tersebut tersenyum, sekilas Ia perhatikan meja kerja Pak Torren yang dipenuhi arsip juga dokumen yang sepertinya dalam tahap sedang dikerjakan. Diiihatnya dokumen tersebut sebagian besar adalah proposal dari perusahaan, pesantren atau pengurus mesjid. Kemudian dengan agak lambat Ia dekati Pak Torren penuh kehati-hatian, diajukannya pertanyaan dengan lembut: “Bapak mau Jumatan bareng dengan Saya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, Saya masih sibuk, Saya tidak punya waktu” Tanpa menoleh Pak Torren melanjutkan pekerjaannya. Mungkin ingin menunjukkan ke orang lain, bahwa pegawai negri bukanlah pengangguran terselubung seperti pendapat orang kebanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah! Hati-hati lho Pak!” masih dengan senyum, Orang Penting ini mengingatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksud Bapak?” Tanya Pak Torren dengan nada bingung dan sedikit tersinggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh Tidak, Saya tak bermaksud apa-apa, hanya mengingatkan bahwa sebaiknya Kita senantiasa berhati-hati dalam ucapan, karena bila Tuhan menjawab pinta Kita, dan memberikan Kita waktu yang lebih banyak, bukankah Kita malah jadi susah?” Orang ini menjawab dengan tebu yang ditanam di bibir; manis sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waktu yang banyak, bisa berarti kita kehilangan banyak, mungkin kehilangan istri dan anak atau keluarga, kehilangan pekerjaan, kehilangan harta. Atau meski itu semua tidak Kita miliki, bisa saja kita kehilangan kesehatan. Bukankah dengan itu semua Kita akan memiliki waktu lebih banyak?” Keduanya sunyi sejenak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya sudah Pak, maaf kalau ucapan Saya tidak berkenan di hati Bapak.” Sambil membungkukkan badan “Saya hanya sekedar mengingatkan sebagai sesama saudara, agar Kita senantiasa menjadi orang yang mawas diri tanpa perlu dipaksa oleh Tuhan” Masih dengan senyum “Saya permisi ya Pak!” Dan Ia pun melangkah menuju ke anak tangga, meninggalkan Pak Torren dengan gedoran keras di pintu hatinya. Pak Torren tidak lagi mempertanyakan siapa gerangan bapak tadi, juga maksud kedatangan di kantornya, karena nanti pasti Pak Walikota akan menyampaikan perihal orang tersebut. Namun gedoran itu mampu membuka pintu hati yang selama ini macet oleh karat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah tiga bulan lebih, Pak Torren aktif berorganisasi di luar kegiatan kantor. Bersama organisasi pemuda dan masyarakat, Ia turut mendukung aksi yang menuntut pemerintahan yang baik di instansinya. Awalnya banyak orang ragu akan perubahan sikap ini, namun kelamaan Mereka percaya. Bukan hanya masyarakat yang senang dengan perubahan ini, anak dan istrinya-pun mendukung, karena selama ini Mereka dikucilkan tetangga karena dianggap sebagai istri dan anak-anak yang dibesarkan dari hasil korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tidak semua orang suka melihat perubahan ini. Pak Walikota sering menegurnya berkali-kali bahkan mengancam. Hingga Sabtu pagi rumah Pak Torren dan beberapa rumah di sekitarnya terbakar. Mungkin si pelaku ingin memberikan penerangan agar dipahami Pak Torren. Sayangnya teguran ini tidak berhasil. Maklum, api bisa membakar banyak, tapi menerangi hanya sebentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski Pak Torren meyakini satu hal, bahwa tak ada jalan yang pasti untuk menang, namun ada jalan yang pasti untuk tidak kalah, yaitu jangan bertanding. Pak Torren memilih bertanding, dengan hasil tubuh penuh luka bakar saat berusaha menyelamatkan anaknya yang masih kecil di lantai atas, ketika kebakaran terjadi. Keluarganya selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah sakit, kunjungan orang penting yang pernah menasihatinya, sanggup membuat ceria. Orang tersebut, Pak Sungkono dari Badan Pemberantasan Korupsi. Dia menerima tumpukan dokumen dari anak Pak Torren. Dengan data ini, jatuh hukuman kurungan tiga tahun lamanya untuk Pak Walikota, hanya Sang Walikota. Tidak ada lapisan diatasnya yang ikut menginap di bui. Pak Walikota pasang badan sendirian, gagah berani. Hukuman orang seperti ini, biasanya akan banyak mendapat remisi, potong masa tahanan; bantuan dari “orang atas” yang telah menganggapnya pahlawan penyelamat muka. Sayangnya Pak Torren tidak bertahan lama untuk melihat hasil perjuangannya, entah karena luka bakar yang diderita atau memang Tuhan ingin segera menemuinya untuk sesuatu yang abadi yang bakal diterima; Pak Torren mangkat sebagai pahlawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak dan istri Pak Torren menginap sementara di rumahku yang terletak tidak jauh dari lokasi kebakaran, sebelum akhirnya mereka kembali ke kampungnya, di Purwokerto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak begitu mengenal Pak Torren serta tindak-tanduknya. Aku hanya mengenal anaknya yang sebaya denganku, tapi dari bapak-ku kisah ini diceritakan. Entah apa saja yang pernah diceritakan Pak Torren pada bapak-ku yang hanya seorang guru mengaji. Tapi satu hal yang kuingat saat di pemakaman. Tak satu-pun dari ketiga anaknya yang menangis tersedu-sedan, hanya wajah yang terlihat sedih dengan ucapan bangga: “Bapak, Kami bangga punya bapak sepertimu”. Dan istrinya bergumam lirih: “Suamiku, Engkau-lah pahlawanku”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Aku hanya tahu: Di negriku, untuk menjadi pahlawan, orang harus mati!&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;Jakarta, 04 November 2007&lt;br /&gt;Mugi Subagyo&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581471201873128981-6447785777875002714?l=mugi-cerpen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mugi-cerpen.blogspot.com/feeds/6447785777875002714/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581471201873128981&amp;postID=6447785777875002714&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581471201873128981/posts/default/6447785777875002714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581471201873128981/posts/default/6447785777875002714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mugi-cerpen.blogspot.com/2007/12/pahlawan.html' title='PAHLAWAN'/><author><name>mugi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02840193125720902474</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/mugigede.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581471201873128981.post-7747946763394037800</id><published>2007-12-12T17:18:00.000+07:00</published><updated>2007-12-12T17:31:03.063+07:00</updated><title type='text'>IMPUNITY</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suara letusan pistol Glock 17 berkaliber 9x19mm yang memuntahkan peluru, menciptakan lubang gosong di pojok langit-langit ruangan. Pengunjung panik, sebagian berlari, yang lain beringsut perlahan dengan mata terus mengawasi pada orang-orang di pojok meja sisi utara, dekat pintu masuk. Perlahan atau tergesa, yang pasti mereka berusaha menjauhi pertikaian yang sedang terjadi, keluar untuk kemudian mencari tempat hingar-bingar lain.&lt;br /&gt;Pemicu kembali ditarik dengan arah lurus pada kening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Clak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Calon korban beruntung;  senjata jenis ini memiliki pengaman otomatis yang tiap kali ditembakkan akan langsung mengunci pemicunya. Satu hal yang terlupa oleh Pelaku, akibat amarah yang menguasainya. Ini memberikan kesempatan pada seseorang di dekat korban untuk menubruk pelaku, berguling, saling hantam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaku penembakan tidak sendirian. Ada  dua orang pengawal menyertai, Dia menarik paksa si penyerang yang berusaha merebut senjata, dan seorang lagi menarik orang yang dilindunginya sambil menepak pistolnya. Sementara orang yang nyaris lepas nyawanya, masih terkesiap tak mampu bertindak. Temannya yang berusaha merampas senjata dengan menubruk pelaku penembakan, terjajar dalam posisi kaki ditekuk sambil memegang perutnya yang serasa diaduk akibat tendangan yang mendarat, sesaat setelah dirinya terbetot ke belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Banjo! Lepasin Gue! Biar Gue matiin sekalian tuh monyet  sialan” Raung pelaku penembakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan Bos! Inget Bos, Kita di sini buat seneng-seneng, bukan cari perkara.” Bujuk Banjo, pengawalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya Bos, Mending Kita cepet-cepet pergi dari sini.” Ucap seorang lagi, setelah dengan cekatan memungut pistol yang sempat terjatuh saat direbut paksa oleh Banjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Elu yang Bajingan! Beraninya pakai senjata.” Kini calon korban yang berteriak, rupanya Ia sudah bisa menguasai kekagetannya dan kembali menantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Diam Luh!” Bentak Okta, si pengawal, sambil mengacungkan pistol yang kini di tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kekacauan itu akan terus berlanjut hingga memakan korban, kalau saja serombongan polisi dengan senjata siap meledak, tidak segera menghambur masuk. Rupanya sejak keributan awal terjadi, petugas keamanan diskotik telah membaca gelagat buruk, hingga cepat-cepat menghubungi kepolisian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Rumah Sakit MMC Rasuna Said, Kisworo sedang menunggui anak majikannya yang baru saja terlepas dari maut, akibat kegemarannya mengkonsumsi narkotika jenis shabu-shabu dan pil-pil bulat jenis Halusinogen yang dapat merubah perasaan dan pikiran hingga mampu merubah daya pandang seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisworo duduk di ruang tunggu, termenung, membayangkan rehabilitasi medis yang akan diurusnya untuk si anak majikan. Sebuah pekerjaan yang sulit, tak sembarang orang boleh mengetahui bahwa si pecandu adalah anak seorang pejabat tinggi di pemerintahan. Kisworo berencana… (handphonenya bergetar) Sebelum berbunyi dan mengganggu ketentraman rumah sakit, segera Ia angkat untuk bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kis, dimana Kamu?” terdengar suara berat di seberang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masih menunggui Eko di rumah sakit Pak.” Kis menjawab bangga, merasa setia, hingga jam tiga pagi tanpa tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suruh orang lain buat jaga si Eko, Kamu cepat ke Polres Jakarta Selatan!” perintah suara di telponnya sempat membuat Kisworo kaget. “Polres Jakarta Selatan” pikirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cepat Kamu urus si Dwi.” Dan “klik,” pembicaraan di putus. Artinya Kisworo harus segera melaksanakan perintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisworo mendengarkan dengan tekun penjelasan Kapolres Jakarta Selatan perihal peristiwa penembakan yang dilakukan Dwi, anak majikannya. Solusinya mudah, seperti biasa. Dia menekan beberapa nomer, berbicara dengan seseorang. Tak lama setelahnya, orang tersebut menghubungi Kapolres Jaksel. Terjadi negosiasi harga, Kapolres dan Kisworo sama-sama puas. Kini tinggal urusannya dengan wartawan, agar wartawan yang hadir tidak menuliskan berita sebagaimana kenyataannya, dengan imbalan yang tidak sedikit tentunya. Namun kali ini Kisworo tak lagi peduli besarnya biaya yang harus dibayar majikannya; mungkin Dia berpikir berapapun hebatnya bernegosiasi, tetap saja dirinya yang disalahkan atas pengeluaran sejumlah uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urusan tuntas. Kisworo pamit pulang, bukan untuk istirahat, melainkan tugas berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang Sang Majikan memiliki sekretaris pribadi yang mengurus masalah administrasi, namun soal relasi, hanya Kisworo yang dipercaya, hanya dia ahlinya. Pagi itu seusai membasuh tubuh dan berganti pakaian, Kisworo berjalan meninggalkan pandangan istrinya yang nampak trenyuh melihat kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menghadiri acara ulang tahun anak ke-tiga sang Boss Besar. Aku dan Pak Roni bekerja di salah satu anak perusahaan yang dimilikinya. Kami pilih tempat paling pojok. Meski bukan sekali ini hadir untuk acara-acara sepele yang diselenggarakan dengan mewah, namun tetap merasa asing di antara banyak kenalannya dari anak perusahaan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara belum dimulai, meski sebagian besar tamu yang kesemuanya menduduki posisi penting telah hadir, memenuhi ruangan luas di belakang rumah yang juga berfungsi sebagai dermaga. Ada dua buah Yacht (kapal pesiar) yang diparkir melintang pada permukaan laut yang berair tenang. Kami mengambil piring kecil dan mengisinya dengan seikat buah anggur dan beberapa buah jeruk, lalu duduk kembali di pojok dekat laut dan buritan dari sebuah kapal pesiar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamu kehormatan yang ditunggu tiba berbarengan: Kapolri dan Pejabat BIN. Acara dibuka oleh MC kocak, seorang selebritas wanita yang sesungguhnya laki-laki. Sebelumnya telah hadir pejabat-pejabat negara dan para pemimpin partai besar. Kisworo berjalan di belakang tamu kehormatan, ikut mengantar menemui tuan rumah; sang majikan. Dia melihat sekeliling, selanjutnya berjalan meninggalkan tamu kehormatan yang sibuk dengan ramah tamah palsu, menuju pojok dermaga dekat buritan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat malam Pak Roni, Pak Rudi” sapanya ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Met malam Pak Kis.” Jawab kami hampir berbarengan, berdiri sambil mengulurkan tangan bersalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, kok pada bujangan?” Tanya Pak Kis yang melihat kami hadir tanpa istri atau anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Istri dan anak Saya sedang pulang ke Surabaya, menjenguk neneknya yang sedang sakit” jawab Pak Roni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya Pak Kis, istri Saya juga tidak bisa hadir karena harus menunggui bayi kami yang kurang sehat” Jawabku. “Tapi Saya sudah meninggalkan nomer telponnya Pak Roni ini, kalau-kalau istri Saya tidak dapat menghubungi handphone saya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ahh.. Keluarga bahagia dimana saja, mirip satu sama lain; keluarga yang tidak bahagia memilik ketidakbahagiaan mereka berbeda-beda.” Tiba-tiba Kami rasakan komentar Pak Kis seperti keluhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya ada apa Pak Kis?” Tanya Pak Roni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, kok kelihatannya capek sekali Pak Kis? Susulku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisworo menarik kursi di dekatnya, kemudian duduk sambil meletakkan sebuah surat kabar di meja. Aku dan Pak Roni ikut duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisworo mulai bercerita panjang tentang kegiatannya belakangan ini, keluhannya tentang dirinya yang menjadi manusia mati lantaran budi. Tentang jasa baik majikannya yang telah mengangkat orang tuanya dari kejatuhan. Kami terenyuh mendengarnya bercerita tentang majikannya yang juga adalah Boss Besar kami. Bahwa kalau tidak karena hutang budi, tak kan mau Ia bekerja sebagai tangan kanan seorang koruptor kakap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boss kita bukanlah kelas teri yang bermain dengan uang tip, angpao, administrasi, uang diam, pelicin, uang rokok, uang damai atau segala macam korupsi kelas sampah.” Geram Pak Kis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mainannya adalah Pajak, manipulasi tanah, Mark-up anggaran, proses tender dan penyelewengan besar lainnya” dengan setengah berbisik. Hal ini membuat Kami tak lagi menghiraukan acara yang nampaknya seru dengan teriakan-teriakan kebahagiaan semu peserta acara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hati-hati lho Pak Kis!” Potong Pak Roni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya Pak, jangan bicara sembarangan.” Kataku bermaksud untuk tidak berbicara dengan sembarang orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tahu itu, makanya Saya bicara dengan kalian, orang-orang yang selalu dibicarakan keburukkannya oleh Boss Besar karena pikiran skeptis kalian.” Pak Kis bicara, sementara tangannya mengambil surat kabar yang tadi diletakkan di meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian sudah baca ini?” Pak Kis menunjukkan di halaman depan pada kolom bawah kanan, sebuah tulisan berjudul “Pengawal anak pejabat, nyaris menembak pengunjung diskotik”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya yakin, kalian tahu berita sebenarnya.”&lt;br /&gt;Pak Kis benar, Kami memang tahu hal itu dari berita yang beredar di kalangan karyawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hebat bukan?” pertanyaannya mirip pernyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan uang, Boss kita bisa membeli semuanya. Bukan hanya maskapai penerbangan, pesawat pribadi, kapal pesiar seperti ini,” jarinya menunjuk yacht di sebelah kami “rumah mewah, mobil mewah, yang Saya sendiri tidak tahu berapa jumlahnya.” Mata Pak Kis nanar, melirik sekilas pada Boss Besar yang sedang tertawa di atas panggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi Boss dapat menjadikan dirinya orang yang tidak dapat disentuh hukum. Dengan uang hasil korupsi, Ia bisa melakukan apa saja!” Pak Kis berhenti sejenak, mengambil gelas berisi air putih di atas meja, menenggak habis, kemudian melanjutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jaman Soeharto, para pejabat birokrat menerima upeti dengan memelihara kestabilan para pengusaha besar, lalu anak-anak atau saudara si pejabat, menjadi kroni pengusaha. Kini setelah reformasi, korupsi tidak lagi terbatas oleh kroni penguasa, malah sudah merata ke semua lembaga pemerintah dan sektor swasta, ke seluruh masyarakat dan makin individual.” Pak Kis menatap kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya, tidak ada lagi garis hierarki, petunjuk atasan atau restu lembaga, tapi semua orang sudah bisa berinisiatif sendiri, bertindak atas nama sendiri, melakukan korupsi, demi kemakmuran katanya; menggelembungkan perut sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Parahnya, dengan uang itu mereka menjadi tak tersentuh oleh tangan hukum, karena lembaga yudikatif juga melakukan praktek yang sama.” Pak Kis berhenti bicara, ada kebencian dan ketidakberdayaan di dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf Pak Kis, Kami sependapat dengan semua ucapan Pak Kis. Tapi bukankah kalau tiada bedil di pinggang, lebih baik kita berpedang lapang?” Ucapku untuk bersabar, karena Kami tak memiliki kemampuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Roni menambahkan: “Benar Pak, jangankan Kita yang hanya karyawan. Lha wong pemerintah sejak jaman Bung Karno sudah pernah mendirikan badan pemberantasan korupsi dengan mendirikan KOTRAR (Komando Tertinggi Retooling Aparatur Negara), Soeharto membentuk BPKP (Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan) dan hanya menghasilkan tayangan di TVRI; wajah-wajah koruptor kelas ringan.” Aku melihat sedikit perubahan pada wajah Pak Kis; mungkin teringat akan orangtuanya yang ikut menjadi bintang dalam tayangan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hingga saat ini-pun pemberantasan korupsi hanya jadi ikon yang memiliki nilai jual bagi calon atau pemerintahan yang baru. Lantas apa yang harus dilakukan? Peningkatan individu dan kesejahteraan masyarakat dengan memperbanyak pelatihan dan pengajaran? Atau dengan penangkal moral? Saya pikir itu semua sudah tidak relevan lagi, karena moral hanya menyangkut rasa malu yang notabene sudah tidak dimiliki para pejabat kita. Atau agama? Agama hanya pertanggungjawaban di hari kemudian. Saat ini orang perlu makan, menyekolahkan anak, kenyamanan hidup. Bagaimana pula jika korupsi memang sebuah metode dan cara untuk mencari uang dengan gampang?” Kuberondong Ia dengan pertanyaan berpondasi skeptis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada usul lain yang masuk akal.” Katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita buat pesta makan dengan membakar beberapa ikan besar. Ini Kita perlukan sebagai tanda bahwa tidak ada ‘impunity’. Tidak ada lagi orang yang bisa bebas dari hukuman karena korupsi. Sebagai Shock Therapy, kejutan yang benar-benar kejutan, bukan lagi sementara, namun berkelanjutan” Jawabnya mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Pak Kisworo benar. Satu yang jadi pertanyaan: Siapa “Kita” ini? Ya, Kita ini siapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kuingat pepatah China: “Jika seseorang menjadi raja, anjingnya-pun ikut ke surga”.&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 04 November 2007&lt;br /&gt;Mugi Subagyo&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581471201873128981-7747946763394037800?l=mugi-cerpen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mugi-cerpen.blogspot.com/feeds/7747946763394037800/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581471201873128981&amp;postID=7747946763394037800&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581471201873128981/posts/default/7747946763394037800'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581471201873128981/posts/default/7747946763394037800'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mugi-cerpen.blogspot.com/2007/12/impunity.html' title='IMPUNITY'/><author><name>mugi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02840193125720902474</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/mugigede.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581471201873128981.post-94113574615405671</id><published>2007-08-23T11:00:00.000+07:00</published><updated>2007-08-23T11:39:34.708+07:00</updated><title type='text'>HARGA CINTA SEJATI</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jakarta, Juli 1990&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Saat-saat yang kureguk bersamamu&lt;br /&gt;Laksana taman yang mewangi&lt;br /&gt;Senja yang temaram&lt;br /&gt;Dan air mancur yang bernyanyi&lt;br /&gt;… Kau&lt;br /&gt;Dan hanya Kau satu-satunya&lt;br /&gt;Yang mampu membuatku merasa hidup&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;Menurut cerita&lt;br /&gt;Ada orang yang pernah melihat bidadari&lt;br /&gt;Tapi Aku sudah melihatmu&lt;br /&gt;… Dan itu sudah cukup&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada bintang dalam mata seorang gadis mungil berwajah lembut dan sangat manis, saat menunjukkan sajak pendek dari seseorang yang  Ia yakini menyimpan kerinduan miliknya. Saat itu, pelajaran sekolah belum lagi dimulai, dan seperti biasa, Aku menuju kantin di samping kelas untuk sarapan ketoprak lontong. Belum juga setengahnya kumakan, kulihat Pratiwi berlari mendekatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Abang! Lihat Bang! Aku dapat surat cinta.” Gadis hitam manis berdagu lancip mengabarkan kegembiraan hatinya melalui bibir tipis, agak berteriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari siapa?” pertanyaan ini kulemparkan bersamaan dengan membaca tulisan di bagian dalam buku yang Ia perlihatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Abang Palguna.” Jawabnya mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Darimana Kamu tahu ini dari Palguna?” Kukembalikan buku itu dengan kesangsian “Di situ tidak tertera namanya” kulanjutkan mengunyah tauge yang diberi bumbu kacang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini sudah pasti dari Dia Bang! Karena Dia yang meminjam dariku tiga hari yang lalu.” Pratiwi mengambil duduk di dekatku. Kami sudah lama berteman, meski di SMA ini, kami beda kelas dan jurusan, namun sering bepergian dengannya bersama teman-teman lain. Dan karena rumah kami berdekatan, Pratiwi memanggilku dengan sebutan Abang. Katanya: saya baik dan penuh perhatian layaknya seorang kakak terhadap adiknya. Mungkin juga karena memang dia anak satu-satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Meski begitu, belum tentu Palguna yang menulis, walau kemungkinan besarnya tulisan itu ditujukan untukmu.” Dua teguk teh hangat membantu masuk makanan yang sempat tercekat di kerongkongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lagipula, Kamu tahu sendiri, bahwa buku itu kita gunakan bersama-sama kemarin malam.” Kucoba mengingatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Meski kita belajar kelompok di rumah Palguna; disana ada Bismaka, Tejo, Sarka dan …” Kuarahkan ibu jari ke dada sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Atau bisa jadi tulisan itu buat Utari, kan dia juga ikut kemarin.” Ledekku pada Pratiwi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak Bang! Ini pasti dari Palguna. Saya hapal bentuk tulisannya.” Tegas Pratiwi seakan ingin meyakinkanku atau mungkin untuk meyakinkan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho! Kami berempat memang mirip tulisannya, kecuali Tejo yang mempunyai tulisan sangat indah seperti tulisan anak perempuan.” Kutunjuk Tejo yang baru datang, masih dengan menjinjing tas karung goninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya. Tulisannya bagus mirip tulisan anak perempuan.” Pratiwi bangkit berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi anak perempuan yang tidak sekolah!” Pratiwi menjauh setelah mengambil dua-tiga kerupuk dari piring makanku. Aku hanya tersenyum mendengar ejekannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat mereka berpapasan dan terjadi sedikit pembicaraan. Tidak lama kemudian Tejo menghampiriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah.. Sekarang datang pengacau.” Batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hey Broer! Tumben datang pagi-pagi, apa semalam nginap di sekolah? Pertanyaan basi yang sering dilontarkan Tejo, tidak kujawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tadi papasan dengan Pratiwi, Dia bicara apa?” Langsung saja kutanyakan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh.. Tidak tahu tuh! Dia langsung menuduhku mencoret-coret bukunya yang kita pakai belajar bersama kemarin malam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu?” sergapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Tidak-lah, mana Aku tahu soal bukunya. Kemarin malam kan Aku yang melontarkan pertanyaan, kalian yang menjawab dengan referensi buku itu.” Tejo menjawab sambil memesan ketoprak lontong, dan kepada Mas Rasino penjual ketoprak, Tejo menunjuk ke arahku, menjelaskan maksudnya mengenai siapa yang akan membayar, kemudian mengambil gelas minumku yang hampir tandas diminumnya, jika tidak kurebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percakapan selanjutnya dengan Tejo, lebih banyak bercerita tentang rencana kami untuk kemping akhir minggu ini, jadi kami susun rencana. Mudah ditebak siapa-siapa yang akan diikut-sertakan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Curug Nangka, Bogor, Juli 1990&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pratiwi mendekatiku dengan kegundahan, saat kami ber-enam asik bermain gitar dan bernyanyi di dekat air terjun. Kutinggalkan teman-teman sejenak, karena kulihat tangannya melambai memanggil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pratiwi kembali menunjukkan secarik kertas. Kuambil lampu badai, kemudian kudekati dan kubaca apa yang tertulis.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pratiwi,&lt;br /&gt;Andaikan kumiliki pakaian bersulam dari surgawi&lt;br /&gt;Terbuat dari cahaya emas dan perak asli&lt;br /&gt;Pakaian berwarna hitam, lembayung dan merah hati&lt;br /&gt;Terbuat dari malam, siang dan sore hari&lt;br /&gt;Akan kuhamparkan pakaian-pakaian itu di bawah kakimu.&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;Tapi Aku seorang hina yang hanya memiliki mimpi&lt;br /&gt;Dan telah kuhamparkan mimpi-mimpiku di bawah kakimu&lt;br /&gt;Mimpi yang terjalin lembut&lt;br /&gt;Karena Engkau-lah&lt;br /&gt;Yang membuat mimpi-mimpiku menjadi kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kini tulisan itu jelas diperuntukkan buat Pratiwi, dari seseorang diantara kami yang menaruh hati padanya, namun pengecut untuk berterus terang, atau mungkin masih belum berani menyematkan namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang jelas kan? Cinta itu untukku!” Pratiwi berbisik sambil mendesah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya!” Singkat saja kujawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu artinya: Abang Palguna memang suka padaku seperti Aku menyukainya.” Masih dengan keyakinan pada seseorang, Pratiwi melanjutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mulai hari ini, akan Aku berikan cinta dan kasih sayangku padanya” pupil mata Pratiwi membesar untuk memberikan ketajaman fokus dari penglihatannya; lurus datar membidik Palguna. Nampak jelas kebahagiaan seperti tumpah meluap ternoda kebanggaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya wanita berselera aneh yang tak menyukai Palguna, pria berpostur tinggi gagah dengan otot-otot seperti dicetak dari gen-gen berkualitas. Palguna memiliki dua wajah sekaligus; wajah seorang pejuang dan kelembutan gadis pesolek, meski itu alamiah. Pembauran yang membuat orang lain akan memberikan penilaian terhadapnya sebagai Pria yang Cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bahkan tubuhku-pun akan kupasrahkan padanya.” Sebuah pernyataan biasa, keluar dari mulut seseorang yang mengkultuskan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin agak berlebihan,” kutanggapi pernyataan Pratiwi “namun cinta yang besar, jangan sampai membutakan hati dan pikiranmu.” Kulanjutkan pemaparan bersangkutan dengan diri Palguna yang kukenal. Sebagaimana pria seusia kami, masih menyukai kebebasan, petualangan dan pencarian jati diri, jauh dari rencana masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pratiwi membantahku, dan ini untuk pertama kali sejak kukenal dia lebih dari tujuh tahun lalu. Dia tetap pada keyakinan cintanya. Kembali kuingatkan pandangan mereka yang berbeda; juga dibantahnya dengan tameng “cinta sejati”.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;-----&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jakarta, Januari 1992&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pratiwi,&lt;br /&gt;Aku tidak tahu awalnya hingga akhirnya kalian bisa jalan bersama, berdua saja; tidak pernah Engkau ceritakan itu. Aku hanya menampung keluh kesah, curhat hingga permohonan untuk menolongmu, berkali-kali membantumu. Dan ketika kembali kuingatkan tentang kelanggengan hubungan kalian, kembali pula tameng “cinta sejati” kau gunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa Abang masih tidak percaya bahwa cinta sejati itu memang ada?” Tanyamu sedikit tersinggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, tapi cinta sejati itu seperti hantu,” sanggahku “hampir semua orang membicarakannya, namun hanya sedikit yang benar-benar pernah menjumpainya.” Sambil mengalihkan pandangan, perkataan ini kuberi tekanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah.. Abang Cuma iri!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Abang tidak senang dengan kedekatan Kami, karena itu berarti Kami akan lebih sering berdua” &lt;br /&gt;“tanpa mengikut-sertakan Abang.” Ucapmu membalik posisi rasa tersinggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik! Aku akan membantumu sampai tidak lagi dibutuhkan.” Aku mengalah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jakarta, Desember 1997&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pernikahan kalian-pun dapat terlaksana, meski untuk itu Aku menerima hinaan, cercaan dari mertuamu. Itu kuterima, wajar mereka marah karena Aku membuat anaknya berpindah keyakinan. Namun itu belum juga cukup untuk menahanmu menggunakan campur-tanganku. Kulakukan itu semua, meski awalnya kebimbangan menggantikan bayanganku, tapi tetap saja kulakukan itu Pratiwi, untuk kebahagiaanmu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yogyakarta, Juli 2004&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tujuh tahun usia pernikahan kalian, rupanya belum juga cukup dalam membentuk pribadi yang saling membutuhkan. Surat yang Kau layangkan bercerita tentang putus asa, hanya keputus-asaan. Keindahan sajak atau puisi dari suamimu tidak lagi Kau rasakan, apalagi isinya. Kalian berpisah, dengan sebuah keputusan berlandaskan amarah; talak tiga, sebuah keputusan yang tidak lagi memungkinkan untuk mempersatukan kalian kembali. Meski Aku datang kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pratiwi,&lt;br /&gt;Kamu tidak akan tahu, bahwa Aku menangis membaca suratmu. Aku menyesal tidak mengatakan kebenaran tentang orang yang pernah Kau cintai sepenuh hati. Karena kekhawatiran akan merusak kebahagiaanmu, Aku memilih diam, menjadi pengecut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;-----&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pratiwi nyaris menutup buku agenda yang dahulu pernah diberikannya untukku, namun tulisan di akhir buku menghentikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya! Pratiwi datang menemuiku meminta bantuan untuk mengadakan reuni guna mengisi kekosongan hati dan jiwanya. Mungkin juga Pratiwi beranggapan bahwa Aku pasti mau membantunya. Dilihatnya Aku memiliki banyak waktu karena sampai saat ini masih hidup sendiri. Buku agenda tersebut kususun rapi di lemari kaca, namun Ia mengenali, kemudian mengambil untuk membacanya. Dan ini terjadi saat kutinggalkan Ia di ruang tunggu, untuk kubuatkan telur mata sapi kesukaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali padanya, dua piring nasi lengkap dengan telur mata sapi hampir terlepas dari tanganku. Pratiwi menubrukku dengan tangisnya yang menjadi. Mataku berkeliling mencari sebabnya. Kulihat buku agendaku tergeletak , terbuka pada halaman terakhir. Disana jelas kuhafal tulisan yang belum lama kutulis:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jakarta, 31 Juli 2007&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pratiwi,&lt;br /&gt;Engkau bisa menyerahkan dirimu kepada orang lain,&lt;br /&gt;tetapi tidak ada orang yang bisa mencintaimu lebih murni,&lt;br /&gt;lebih sempurna dariku.&lt;br /&gt;Tak ada yang bisa merasakan kebahagiaanmu sesuci yang kurasakan,&lt;br /&gt;dan selamanya kurasakan seperti itu.&lt;br /&gt;Dan di dalam hati ini,&lt;br /&gt;semua itu mempunyai sebuah ruangan yang tenang,&lt;br /&gt;berlangit-langit tinggi,&lt;br /&gt;diterangi sinar matahari.&lt;br /&gt;Dimana ada sebuah tempat tidur putih,&lt;br /&gt;dan Dirimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu,&lt;br /&gt;Mencintai seseorang,&lt;br /&gt;berarti kehilangan waktu atas diri&lt;br /&gt;Mencintai seseorang,&lt;br /&gt;berarti siap terluka, kecewa bahkan sakit hati&lt;br /&gt;Karena itulah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencintaimu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;-----&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya Pratiwi mengerti akan makna cinta sejati, meski untuk itu ada harga yang harus dibayar. Banyak waktu telah pupus, dan waktu tak pernah mau menunggu, ia ibarat pedang, yang memotong usia tanpa terlihat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 17 Agustus 2007&lt;br /&gt;Mugi Subagyo&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581471201873128981-94113574615405671?l=mugi-cerpen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mugi-cerpen.blogspot.com/feeds/94113574615405671/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581471201873128981&amp;postID=94113574615405671&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581471201873128981/posts/default/94113574615405671'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581471201873128981/posts/default/94113574615405671'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mugi-cerpen.blogspot.com/2007/08/harga-cinta-sejati.html' title='HARGA CINTA SEJATI'/><author><name>mugi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02840193125720902474</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/mugigede.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581471201873128981.post-854865946073836813</id><published>2007-07-31T09:15:00.000+07:00</published><updated>2007-08-02T10:02:05.214+07:00</updated><title type='text'>MOTIF</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Darah Roro mendidih sampai ke ruas jantungnya, pundaknya bergetar menahan api amarah dalam sekam hatinya, saat baru saja ia membaca kabar kematian bapaknya. Api seperti memercik dari wajahnya, mengeringkan tandas air mata, dan niatnya yang kokoh mengencang di ujung dendam. Derita batin yang tak tertahankan membalik kelut menjadi sunggingan, senyum mengerikan malaikat pencabut nyawa.  Sontak Roro berdiri mengangkat wajahnya ke langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, baiklah.” Ucapnya seperti bercakap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuhan, jangan Kau tegur aku lagi, tapi dengarlah sumpahku.” Bibirnya bergetar kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau dengarlah sumpahku, Wahai Penentu Takdir. Kelak dalam perang yang kutentukan, akan kurobek dada si laknat Pamade,” (suara Roro menggumam muram, seperti raung singa menjelang ajal), “lalu akan kuminum darahnya, kuminum!”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apotik hidup tempatnya berpijak, seolah baru saja mendengar petir meluruh. Anggrek tanah, asparagus, belimbing wuluh, bunga lili, kaca piring dan tanaman lain nampak menciut merasakan ngeri; sesuatu yang tak pantas telah terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis molek bertubuh jangkung ini menunduk, matanya bertumpu pada surat yang tadi dibacanya. Dadanya yang telah menyiratkan kematangan seorang perempuan itu bergerak cepat turun naik, hidung bangirnya kembang kempis, mata bening itu kini semerah saga, bahkan kuning langsat kulitnya telah hilang dilebur pitam merah yang menghitam. Keadaan wanita yang selalu dicoba rebut hatinya oleh banyak pria ini, sungguh tak pantas disanding pria manapun, meski pria itu seorang pengkhianat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kertas itu tanggal dari tangan Roro. Hal pertama yang dirasakannya adalah sakit kepala, kemudian mual pada perutnya dan hilang sendi pada lututnya; kemudian rasa bersalah yang menghujam, dingin menghunus selingkungan tubuh, gamang dan takut; sesudah itu Ia ingin hari esok sudah tiba. Sejurus kemudian Ia bergerak menjumput kertas itu dan pergi ke kamarnya, kemudian diam-diam memasukkan ke dalam laci meja rias. Kini seakan-akan Roro sudah tahu apa yang akan terjadi dan bagaimana itu berlaku. Barangkali Ia memang mulai mengetahui meski samar atau Ia telah menjiwai dirinya yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hari yang semakin gelap sampai munculnya pagi, Roro menangisi bunuh diri yang dilakukan bapaknya. Ia teringat hari-hari bahagia yang dilalui bersama, Ia teringat rumah besar bertingkat dua yang pernah mereka tinggali. Pada tiap jendela atau pintu rumah itu, terpasang gorden seluas bidang jendela atau pintunya. Ada gorden bermotif untaian daun hijau tipis serasi dengan warna dinding bagian dalam rumahnya, juga gorden berwarna kuning gading seirama dengan kusen jendela pada lantai atas. Bermacam gorden tersebut menggunakan bahan berbeda pula; banyak yang menggunakan kain berserat sintetis, tebal atau tipis, bermotif atau polos dan juga gorden dari bahan tenun. Gorden ini hasil pabrik yang dikelola bapaknya: Raden Mas Bambang Irawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roro terus menangis, ingatannya semakin terperosok dalam, dan berhenti pada masa empat tahun silam. Raden Roro Novianti masih berusia 18 tahun saat duduk di kelas tiga pada sebuah sekolah kejuruan. Sebagai anak satu-satunya keluarga Raden Mas Bambang, Roro mendapatkan kebahagiaan nyaris tak terukur. Siang itu Ia berjalan lenggang kangkung menuju rumah yang tidak jauh letaknya dengan sekolah. Tanpa menyadari bahwa itu adalah awal dari hari terakhir kebahagiaan rumah tangga kedua orangtuanya, yang berarti pula akhir kisah bahagia dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertengkaran hebat sedang terjadi ketika Roro membuka pintu, kehadirannya nyaris tak digubris kedua orangtua, hanya terdengar teriakan bapaknya yang memintanya segera masuk kamar. Dari dalam kamar, Ia mencuri dengar tentang pertengkaran yang dipicu rencana bapaknya untuk menikahi gadis yang berprofesi kepala akunting di kantor yang dikelola bapaknya. Roro menangis bingung, tak tahu harus bagaimana bertindak untuk anak perempuan seusianya. Kejadian selanjutnya dapat diterka, pertengkaran demi pertengkaran membuat Roro seakan pulang ke medan pertempuran. Seperti biasa, Ia hanya menangis, menggigit bibir menahan sakit; sakit di hati yang entah darimana datangnya. Perang terus berlanjut, hingga Roro menamatkan sekolah dan bingung membawa pulang ke rumah, nilai merosot prestasi akademik. Kali ini Roro kembali tidak tahu, bahwa Ia tak perlu menunjukkan nilai raportnya, karena memang tak ada lagi orang yang bisa ditunjukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunya telah mati! Di tangan pelaku yang adalah bapaknya sendiri. Petugas dari Satreskrim Polresta Semarang Barat mengatakan langsung hal ini. Roro merasakan sekeliling berputar, meski lambat, namun kegelapan dirasakan turun menyelimuti. Dengan pandangan yang terhalang air mata, sekilas Ia sempat melihat bapaknya digiring petugas, juga sambil meraung tangisan dan permintaan maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Istriku, maafkan Aku! Maafkan Aku! Maafkan…” gelap sudah; Roro pingsan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam persidangan, berkali-kali bapaknya bersumpah tidak membunuh istrinya. Namun pisau yang tertanam di dada Nyonya Bambang, tersemat sidik jari sang suami. Tuduhan diperkuat dengan saksi, seorang anak buah Raden Mas Bambang: Pamade.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukuman sepuluh tahun penjara harus ditelan Raden Mas Bambang Irawan, ditambah tuduhan penggelapan uang. Pamade mengajukan bukti tentang penggelapan dana tersebut dan bukti transfer  ke rekening pribadi Raden Mas Bambang. Polemik yang terjadi dimenangkan Pamade; kini Ia menjabat pimpinan tertinggi Perusahaan Garment, yang dulu diduduki Raden Mas Bambang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roro masih membeci bapaknya, hingga saat Raden Mas Bambang mengucapkan kata-kata, Roro tak menyimak. Benci yang timbul karena kesedihan atas kehilangan ibunya, direnggut kebahagiaannya, yang terdalam adalah benci karena dipermalukan. Namun ucapan sang bapak masih didengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapak tidak membunuh Ibumu Nak! Pamade pelakunya” sambil berbisik, Raden Mas Bambang meneruskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapak juga tidak tahu menahu soal penggelapan uang, bahkan heran; darimana Bajingan itu memperoleh data.” Kemudian tangan Raden Mas Bambang ditarik ke belakang oleh petugas yang langsung memborgolnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan terakhir inilah yang menyadarkan Roro, bahwa Ia ikut andil dalam pengrusakan nama baik bapaknya. Ia ingat Pamade pernah memintanya mengambil tumpukan dokumen di ruang kerja dalam rumahnya dan mengembalikan ke Roro dua jam setelahnya, untuk kemudian diletakkan ke tempat semula. Roro masih tak mengerti, tapi Ia percaya sumpah yang diucapkan bapaknya di hari terakhir itu. Ia masih menyimpan rahasia itu hingga kini. Tidak diceritakannya pada seorangpun, bahkan kepada Surtini, teman dekatnya. Barangkali Roro takut menodai rahasia itu kalau tak ada orang yang percaya. Pamade tidak tahu bahwa Roro mengetahui hal ini, dan ini membuat Roro seakan memiliki kekuasaan akan keadilan yang harus dituntut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama bapaknya di penjara, Roro tak pernah membesuknya. Orang-orang yang melihatnya, berpikir bahwa Roro membenci bapaknya, terlebih lagi kini Roro harus mencari nafkah hidupnya sendiri dan terpaksa tinggal di rumah kontrakan. Rumah besarnya disita, harta bapaknya ludes untuk membiayai perkara dan hal lainnya. Hanya perempuan muda yang dahulu hampir dinikahi Raden Mas Bambang, rajin menjenguk bapaknya. Dari wanita ini pula, Roro menerima kabar melalui surat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari mempertontonkan kekuatannya dengan menerobos masuk melalui celah-celah jendela kamar, meninggalkan bekas persegi yang bersinar. Roro menyudahi lamunannya, berdiri berjalan mantap untuk membilas tubuhnya. Setelah memalsukan wajah di depan cermin meja rias, tanpa sarapan Ia berjalan keluar, mengunci rumah dan menuju ke rumah kontrakan Surtini yang terletak bersebelahan, mereka berangkat kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak beberapa hari belakangan, di pabrik ada desas-desus akan ada pemogokan dalam waktu dekat; seperti biasa Roro menentang segala macam bentuk kekerasan. Setelah jam kerja usai, Ia pergi dengan Surtini ke balai pemeriksaan kesehatan, dan Roro mendaftarkan diri. Roro menulis namanya dalam buku pendaftaran pemeriksaan dengan huruf cetak yang besar-besar, bahkan berkali-kali menegaskan namanya pada petugas pendaftaran. Disana mereka bertemu dengan Rukmini dan Retno, mereka tinggal berdekatan, tapi di pabrik berbeda bagian. Rukmini dan Retno mengerjakan bagian khusus untuk gorden rangkapan berupa kain tile tipis yang tembus pandang samar-samar, yang dikenal dengan vitrage. Mereka bicara banyak tentang pekerjaan, rencana jalan-jalan yang akan diadakan bulan depan oleh pihak manajemen. Mereka berbincang tentang pacar-pacar, tentang rencananya pergi ke bioskop. Roro hanya mendengarkan, tak perlu bicara, karena laki-laki menimbulkan ketakutan yang tak wajar pada dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di rumah, Roro membuka laci meja rias dan membaca surat yang semalam disimpan, kemudian membakar dan membuangnya di halaman belakang dekat apotik hidup. Ia kembali masuk kamar, merebahkan diri di ranjang. Dia merasa bersalah dengan Surtini karena membatalkan rencana untuk mengantarnyai berbelanja, tapi malam ini Roro harus istirahat. Menjelang tidur Ia tersenyum mengingat langkah pertama dari rencananya berjalan mulus. Siang tadi Roro menelpon Tuan Pamade untuk menyampaikan bahwa tanpa sepengetahuan orang lain, Ia ingin memberitahukan tentang pemogokan dan berjanji akan datang ke ruangannya besok siang. Suaranya bergetar, sangat meyakinkan untuk seseorang yang akan mengkhianati teman-temannya. Dengan mata tertutup, Ia mengulang lagi rencananya; dengan mengulang ucapan dan pikiran, Roro bermaksud meneguhkan keberaniannya. Sampai tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu Roro terbangun dan melaksanakan aktifitas rutinnya. Di pabrik Ia bekerja seperti biasa, hanya saja siang itu dia tidak langsung menemui Tuan Pamade untuk menepati janjinya, Roro pergi makan siang, tidak bersama Surtini, karena aturan shif yang diterapkan. Roro menuju warung-warung makan yang banyak terdapat di belakang pabrik, tapi tidak memasuki salah satunya, melainkan terus berjalan agak memutar menuju jalan besar, agak jauh dari pintu belakang pabrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roro bertemu dengan supir truk yang biasa beristirahat di sepanjang tepian jalan sebelum melanjutkan perjalanan menuju kota lain, dimana banyak terdapat warung remang-remang. Warung-warung disini agak gelap meski di siang hari, letaknya terhimpit antara dinding pabrik yang menjulang di belakangnya, dan dinding bangunan SPBU di depannya. Roro menemui salah seorang supir yang berperawakan lebih kecil dan berbadan gemuk, supaya rasa jijik dan kebenciannya tetap murni. Roro diantar oleh supir tadi yang ternyata sudah hampir botak rambut belakangnya, mereka berjalan melewati gang sempit, berbelok dua kali, masuk ke dalam rumah yang pintunya rendah. Supir itu memberikan sejumlah uang pada pemuda yang duduk dekat pintu, kemudian pemuda itu menunjuk pada sebuah kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kamar, supir gendut tersebut bergerak cepat merangkul Roro yang hampir membuatnya terbanting pada dipan dengan kasur tipis. Roro diam saja, hanya matanya terus memperhatikan lelaki di atas tubuhnya yang penuh peluh dan bau yang tak sedap. Roro menghirup dalam-dalam dendamnya, semakin lama dadanya semakin sesak. Tapi demi rencananya, Roro rela dijadikan alat pemuas nafsu laki-laki jorok di atas tubuhnya, karena laki-laki itu juga alat baginya: alat pemuas keadilan. Roro merasakan masa lalu terputus sebentar dengan masa depan, ia ketakutan. Ketakutan itu sebentar saja, terhimpit rasa sedih dan kejijikan pada tubuhnya. Ia tidak membuka mata saat ditinggalkan supir botak itu. Setelah beberapa lama Roro bangkit, mengenakan pakaian yang tadi ditanggalkan, ada sejumlah uang di dekatnya. Dengan uang itu Ia membeli makanan cukup banyak, untuk kemudian bungkusan makanan tersebut dibuang dalam perjalanan kembali ke pabrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai Roro!” suara Surtini terdengar memanggilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu tadi dicari Tuan Pamade, katanya sekarang juga disuruh menghadap ke ruangannya.” Surtini menyampaikan pesan yang dibumbui kecemasan pada wajahnya.&lt;br /&gt;“Memang ada apa Roro? Kamu ada berbuat salah?” Tanya Surtini menguatkan kecemasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mana Aku tahu! Aku baru saja selesai makan.” Jawab Roro meyakinkan.&lt;br /&gt;“Memangnya Tuan Pamade tidak bilang ada perlu apa?” Roro balik bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuan Pamade tidak bilang apa-apa. Lagipula mana berani Saya tanyakan itu padanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya sudah, kalau begitu biar saya menghadapnya sekarang.” Roro langsung berbalik pergi meninggalkan tanda tanya di hati Surtini; rupanya Surtini membaca gelagat yang kurang baik, tapi diam dan pergi ke belakang untuk makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruangan Tuan Pamade sangat besar, terpisah dengan bangunan lain. Ada teras yang dijaga dua orang petugas satpam. Roro bermaksud melaporkan kedatangannya pada petugas tersebut, tapi rupanya satpam sudah mengetahui akan kedatangannya karena langsung diminta masuk tanpa diantar. Mungkin Tuan Pamade telah berpesan pada mereka dan melarang mereka mengantar ke dalam. “Hmm.. sesuai dengan rencana.” Batin Roro. Dalam ruang tunggu, Roro ragu melanjutkan langkah kakinya. Ruangan itu masih sama dengan empat tahun yang lalu saat ruangan ini masih ditempati bapaknya, hanya kursi dan meja saja berganti baru. Roro menguatkan diri terus melangkah. Dalam ruangan yang penuh pajangan dinding berupa macam-macam senjata (sejak empat tahun lalu, sesuai cerita orang-orang bahwa tidak ada perubahan dalam tata ruang pimpinan perusahaan tersebut) telah duduk Tuan Pamade menunggu laporan empat mata darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Pamade belumlah terlihat tua, rambutnya lebat dan hitam, giginya lengkap, bentuk mukanya agak lancip. Mata Tuan Pamade teduh, seperti mata seorang ibu yang penuh kasih terhadap anaknya. Kulitnya putih bersih, juga hidungnya tidak seperti kebanyakan pria Jawa; hidung itu mancung memayungi bibirnya yang tipis memerah. Pantaslah bila Ia diberi nama Pamade, nama lain dari Arjuna pada cerita tokoh pewayangan. Pria inipun terlihat menawan, nyaris seperti perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roro gamang menyaksikan kenyataan ini, keinginannya untuk membalas kematian ayahnya jadi goyah. Tapi Roro harus membunuhnya setelah mengalami aib yang telah direncanakannya dengan sempurna. Sambil duduk berhadapan, Roro tertunduk malu-malu memohon maaf dan menyatakan rasa tanggung jawabnya sebagai pekerja yang setia, membuat ia melakukan pengkhianatan terhadap teman-temannya. Roro menyebutkan beberapa nama, berhenti sejenak, lalu menyebutkan nama lainnya lamat-lamat, kemudian terdiam. Roro diam dan gemetar, seakan-akan dikecam ketakutan yang sangat. Tuan Pamade heran menyaksikan reaksi Roro yang berlebih, tapi dia menanggapinya dengan ramah. Tuan Pamade pergi sebentar ke dalam untuk mengambil segelas air putih. Kesempatan ini tidak disia-siakan Roro, segera ia gamit pisau yang cukup besar dan berat dari pajangan dinding, kemudian ia kepitkan di pahanya dalam balutan rok panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Pamade keluar membawa segelas air, kemudian diletakkan di samping Roro sambil menyentuh pundaknya guna menenangkan, sambil menyuruhnya minum. Saat itu Roro bangkit berdiri dengan tiba-tiba, menghujamkan belati, mencabutnya dan menghujam lagi berkali-kali. Kaget atas perlakuan pada dirinya yang tiba-tiba, Tuan Pamade hanya sempat menatap Roro dengan kaget bercampur marah, tapi tak bisa mengeluarkan kata-kata karena tusukan pertama, tepat menembus jantungnya. Hanya dari wajahnya terkumpul makian yang tak terlontar, darah merah mengalir membasahi dadanya; Tuan Pamade tewas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roro belum bisa beristirahat ia mengacaukan kursi tempatnya duduk, meja dekat sofa dan karpet bulu, pajangan dekat pisau yang ia ambil tak luput diobrak-abrik. Roro membuka kancing baju mayat, menarik dan mengguncangkannya membuat darah yang keluar semakin banyak, semakin banyak pula cairan merah tersebut direguk Roro seperti kehausan. Kemudian Ia berlari keluar berteriak-teriak. Roro berulangkali mengucapkan kejadian perkosaan atas dirinya saat ia memenuhi panggilan berkenaan dengan pemogokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ia memperkosa Saya, Ia menghancurkan Saya, Saya bunuh dia!” histeris Roro berkali-kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita Roro memang sulit dipercaya, tapi semua orang mempercayainya karena dasarnya cocok, nada suara dan kalutnya benar, malunya benar, kehilangan keperawanannya benar, alibi senjata yang digunakan benar, aibnya benar, kebencian yang menimbulkan amarahnya benar, alasannya membunuh benar. Hanya kejadian dan waktunya yang tidak benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku telah membalas kematian orangtuaku, dan aku tak dapat dihukum..” desis Roro.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 31 Juli 2007&lt;br /&gt;Mugi Subagyo&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581471201873128981-854865946073836813?l=mugi-cerpen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mugi-cerpen.blogspot.com/feeds/854865946073836813/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581471201873128981&amp;postID=854865946073836813&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581471201873128981/posts/default/854865946073836813'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581471201873128981/posts/default/854865946073836813'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mugi-cerpen.blogspot.com/2007/07/motif.html' title='MOTIF'/><author><name>mugi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02840193125720902474</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/mugigede.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581471201873128981.post-7889172745160087808</id><published>2007-07-04T11:09:00.000+07:00</published><updated>2007-07-04T13:18:49.037+07:00</updated><title type='text'>SUNYI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sore ini Kartika kembali marah-marah. Ibu muda itu sedang memunguti rempah-rempah sisa makanan anak lelakinya. Kartika memang tipe ibu rumah tangga yang pembersih. Dia pandai mengatur penempatan benda atau perabotan rumah, sehingga rumahnya selalu tampak rapi, bersih dan teratur. Kini setelah seharian sibuk dengan belanja, cucian dan makan untuk keluarga, dia mendapati ruang tengah, ruang tamu hingga teras depan banyak mainan anak tercecer, belum lagi jejak kaki yang masih basah. Dari luar terdengar suara suaminya yang sedang asik bermain pistol air melawan putranya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Hai kamu penjahat! Ayo menyelah! Atau Aku tembak kamu” Teriak anak lelaki berusia 3 tahun menodongkan senjata ke arah bapaknya yang sedang mengisi ulang pistol air dari keran di depan rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak! Aku tidak mau! Harusnya kamu yang menyerah Ranger Merah! Tantang monster yang diperankan si bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lasakan ini! Duell.. duell… duall..dolll!” peluru air membasahi kaos belakang bapaknya, sementara kaos di depannya sudah basah lebih dulu. Tanpa menunggu pistolnya terisi penuh oleh air, sang bapak balas menembak. Suara tertawa keduanya terdengar seru, namun tidak di telinga Kartika yang sudah letih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Ranger Merah berlari ke dalam, tubuhnya ditahan oleh Kartika, yang langsung diseretnya keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Papa! Papa ini bagaimana sih? Yang benar saja Pa! Main air kok di dalam rumah” bentak Kartika, masih dengan memegang tangan anaknya. Si anak tidak memperdulikan ibunya, dia malah sembunyi di belakang kaki si ibu, lebih terkesan takut kena tembak bapaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Coba lihat hasil kerja kalian ini! Mainan berantakan dimana-mana, lantai kotor dan basah! Papa malah terus main tembak-tembakan. Ingat Pa! Papa bukan anak kecil!” Teriakan ini tidak dihiraukan anaknya yang justru menembak bapaknya dari sela tangan ibunya. Tindakan ini memancing kemarahan Kartika, dan reflek memukul tangan anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini lagi! Memangnya tidak ada yang bisa kalian lakukan selain mengacau? Tidak bisa kalian tenang? Kalau tidak bisa, sebaiknya kalian pergi saja sana! Main di luar, jangan di rumah!” Ada rasa sesal di hati Kartika saat melihat anaknya mengaduh sambil memegang tangannya yang kena pukul. Mungkin dia memukul terlalu keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah Mama, kita kan lagi asik main. Nanti setelah selesai juga kita bereskan semua. Iya kan Fahri?” bela sang bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya Ma!” ucap Fahri, anak lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak! Pokoknya tidak boleh!” balas Kartika yang semakin naik pitam melihat kondisi di teras lebih berantakan. Dipandangnya sebuah pot bunga Sutra Bombay kesayangannya dalam kondisi tergeletak miring, hingga sebagian tanah di dalamnya tumpah keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ampun! Tanaman Mama!” Kartika melepaskan genggaman tangan pada anaknya dan berlari menghampiri pojok teras tempat dia menaruh tanaman hias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian keterlaluan!” Ucap Kartika meradang, namun tidak ada suara yang keluar, hanya tangisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tangisan dari rasa sedih yang timbul karena letih, sedih dengan perasaan tidak dihargai dan Kartika menangis sambil mengusap tanaman juga pot-pot yang dia betulkan posisinya. Meski tiap hari Kartika selalu membersihkan dan merapikan rumah, tapi hari ini ia merasa semua sudah keterlaluan. Matanya merah menyalakan amarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian berdua pergi!” suaranya terdengar seperti harimau terluka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pergi kemana Ma? Ini kan sudah sore, lagipula itu semua nanti Papa perbaiki dan Papa bereskan semuanya.” Rayu sang suami yang membuka tangan karena anaknya beringsut mendekati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mama tidak peduli! Pokoknya kalian pergi! Rumah ini tidak akan beres selama kalian ada di rumah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita minta maaf deh Ma, sini biar Papa bantu beresi!” Nada suara suaminya menyiratkan rasa salah dan penyesalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Plak!” sebuah tepisan keras mengenai tangan suaminya. Sang suami merasa lebih terkejut daripada rasa sakit akibat pukulan dari sebuah garu kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang suami menyadari kemarahan istrinya, dengan berharap akan segera reda bila mereka tinggalkan untuk sesaat, ia pun mengambil sepeda dengan sebuah bangku kecil sebagai boncengan untuk anaknya. Ia letakkan anaknya, kemudian mengayuh tanpa tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita mau kemana Pa?” Tanya anaknya yang sejak tadi diam saja. “Mama kok jahat sih Pa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mama gak jahat Fahri, Mama Cuma capek, jadinya Mama sedih. Kan tadi Fahri lihat sendiri Mama menangis.” Ucap si bapak sambil terus mengayuh sepedanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di luar, lampu penerang jalan sudah mulai menyala, tanda hari mulai gelap. Langit cerah menyombongkan kekayaannya dengan taburan bintang. Jalan yang mereka lalui hanya sebuah jalan lingkar yang akan membawa kembali ke rumah dalam 40 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Kartika sudah tenang, rumahnya kembali bersih dan rapi. Tanaman sudah diberi pupuk; mainan anaknya sudah ditaruh dalam kardus besar; makanan sudah siap di meja makan. Setelah membasuh tubuh di kamar mandi, kini ia duduk meluruskan kaki di sofa ruang tamu sambil membaca tabloid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kartika masih asik membaca tabloid, jika saja tidak terdengar bunyi keroncongan pada perutnya. Dia berjalan menuju meja makan dan mengambil nasi yang kemudian diletakan pada piring bersamaan dengan lauk-pauknya. Tanpa sengaja matanya tertumpu pada jam dinding tempat ia duduk menghadapi makanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemana mereka?” Batinnya menanyakan anak dan suaminya. “Kalau dihitung dari mereka pergi tadi hingga sekarang, sudah 3 jam lebih mereka pergi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ahh.. mungkin mereka keasikan bermain lagi!” Tapi hatinya membantah. Main apa mereka malam-malam begini? Bukankah mereka belum mandi? Bahkan mereka juga belum makan sejak siang tadi. Atau mereka kini marah karena diusir sore tadi. Jawaban atas pertanyaan ini datang setengah jam kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pintu diketuk diikuti ucapan salam dengan nada suara yang berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dok! Dok! Dok!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat malam!” Suara yang terdengar dari luar sepertinya lebih dari satu orang, dan jelas bukan suara suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, dengan berjingkat hati-hati, Kartika mendekati pintu. Kemudian ia membuka sedikit tirai jendela untuk melihat siapa yang datang. Sikap ini sangat diperlukan, karena tempat tinggalnya termasuk daerah sepi yang rawan kejahatan. Kartika mengintip dan kaget melihat seorang berbadan tegap mengenakan jaket hitam, di belakangnya masih ada dua orang lagi mengenakan seragam lengkap kepolisian. Salah seorang pria berjaket tadi kembali mengucapkan salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat malam Bu! Benar disini rumah Bapak Joko Prasetyo? Tanya pria tersebut ramah, sepertinya mengerti akan kecemasan si tuan rumah yang tidak berani membuka pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul! Bapak-bapak ini siapa?” Giliran Kartika yang bertanya. Tubuhnya kini tidak menguasai lagi akan jalan pikirannya yang terus menduga gerangan apa yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami dari Polres Jagakarsa Bu! Kami ingin bertemu dengan istrinya Pak Joko!” Pria ini menjelaskan sambil meminta temannya yang berseragam lengkap untuk maju ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dengan gugup, Kartika membuka pintu rumah perlahan dengan wajah bingung dan mata bergelayut kecemasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu istrinya pak Joko?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya Pak! Ada apa ya Pak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaiknya Ibu sekarang ikut kami ke rumah sakit!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya ada apa Pak? Lalu mana suami dan anak Saya, Pak? Tanya Kartika tegas, namun dengan badan yang tiba-tiba lemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suami dan anak Ibu di rumah sakit, mereka kecelakaan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kecelakaan? Kecelakaan dimana, Pak? Bagaimana terjadinya, Pak? Kondisi suami dan anak Saya bagaimana, Pak? Apa mereka baik-baik saja, Pak? Kini Kartika tidak mampu lagi bergerak, bahkan tak sanggup untuk menanyakan lebih jauh, suaranya tertahan di tenggorokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu Pak RT datang ditemani seorang polisi. Rupanya salah satu dari mereka melaporkan kejadian yang menimpa warganya dan meminta ijin akan membawa Kartika ke rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mari Bu!” Kartika dituntun dua orang petugas mendekati mobil dinas untuk segera menuju ke rumah sakit. Pak RT mengunci rumah Kartika, kemudian ia menyalakan HTnya menghubungi warga lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah penuh Tanya dan kecemasan yang berlimpah di sepanjang perjalanan, kini Kartika menggerung, menangis sejadinya. Suaminya yang penyabar, penuh cinta kasih kepada anak dan istrinya telah pergi selamanya, tanpa ucapan perpisahan. Segalanya serba tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah kamar, tempat ia harus mengidentifikasi korban kecelakaan, Kartika jatuh pingsan. Tak mampu ia melihat kondisi mayat suaminya yang meskipun telah dibersihkan, namun kondisinya sangat mengiris hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat sadar, Kartika tidak lagi menangis. Ia hanya duduk dengan tatapan kosong. Tidak lagi ada sesuatu di pikirannya, bahkan semua yang di depan matanya hanyalah ruang hampa, kosong, hanya ada kesunyian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Ia bangkit berteriak: “Fahri! Fahri! Dimana kamu Nak?” Ia ingat anaknya. Ia tarik satu persatu selimut yang menutupi mayat, pada masing-masing ranjang beroda. Baru pada ranjang ke-enam, tangannya dipegang seorang petugas yang sejak tadi menungguinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak Ibu tidak ada disini. Dia di ruang perawatan.” Ucapnya sedikit meneduhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dirawat? Berarti anakku selamat? Anakku selamat!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Antar saya Pak! Tolong antar Saya sekarang Pak!” Pinta Kartika menggila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya akan antarkan Ibu kesana, tapi Saya mohon Ibu sedikit tenang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tenang? Bapak minta Saya tenang? Bagaimana Saya bisa tenang? Suami Saya mati, anak saya dirawat, Bapak minta Saya tenang? Bahkan siapa yang menabrak suami dan anak Saya saja, Bapak tidak tahu. Bapak malah minta Saya tenang! Apa Bapak bisa tenang, kalau kejadian ini menimpa Bapak?” Bentak Kartika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya mengerti keadaan Ibu, tapi kalau Ibu seperti ini, Ibu tidak akan diijinkan oleh Pihak Rumah Sakit untuk melihat anak Ibu.” Jawab petugas kepolisian itu bijak, tidak terdengar nada tersinggung dari ucapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kartika mencoba tenang. Dia sadar apa yang telah dilakukan petugas tersebut untuk membantunya. Dia juga sadar bahwa sepanjang perjalanan ke rumah sakit tadi, petugas ini menceritakan detil kejadian kecelakaan menurut saksi mata di tempat kejadian, namun dia tidak menyimak. Dia hanya sempat mendengar bahwa sepeda yang ditumpangi anak dan suaminya dilanggar sebuah jip besar, mobil yang lampunya tidak cukup terang, dan sepeda yang juga tidak berlampu itupun harus terbang bersama penumpangnya, untuk kemudian jatuh dan tidak bangun lagi. Sang petugas kemudian menceritakan usahanya mencari mobil yang sesuai dengan cirri-ciri yang diucapkan saksi mata, juga langkah apa saja yang telah diambil pihak kepolisian, tapi ia tidak menyimak. Pikirannya hanya ada ingatan saat ia mengusir anak dan suaminya dari rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkahnya sempat tertahan di pintu ruang gawat darurat, kalau saja tanpa rekomendasi dari petugas tersebut dapat dipastikan Kartika tidak diijinkan masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kartika tertegun, suaranya tercekat. Apa yang disaksikannya sungguh mampu membuat jantungnya berhenti berdetak. Sekujur tubuh anaknya penuh balutan, namun didengarnya suara yang memanggil ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mamma! Mamma sssakit Ma! Mammma sssiinni Maa!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya Nak! Mama disini!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mamma, Ppaapa manna Ma?” pertanyaan ini keluar dari bibir yang juga pecah dan mata menghitam. Hanya mulut dan mata saja yang tidak terbalut kasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Papa bobo di tempat lain Nak!” Jawab Kartika sekenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mammma jangaann maalah sama Paapa lagii yaa Maa! Kassiaann Paapa, Maa!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak Nak! Mama tidak marah sama Papa, Mama juga tidak marah sama Fahri, Mama sayang kalian berdua.” Ingin rasanya Kartika peluk tubuh anaknya, kemudian diciumi untuk menunjukkan besar cintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang kamu bobo dulu ya! Nanti kalau sudah sehat, baru kita ngobrol lagi! Mama janji akan ajak Kamu main.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini dilihatnya cahaya pada mata anak itu memudar, kemudian hilang. Anak lelakinya, anak satu-satunya ikut pergi menyusul Papanya. Kartika berteriak sejadinya, kemudian tidak tahu lagi apa yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah yang dulu selalu saja berantakan, senantiasa gaduh, sekarang rapi bersih. Tidak terdengar lagi suara suaminya bermain perang-perangan dengan anaknya. Tidak ada lagi mainan tercecer, namun juga tidak ada lagi keceriaan. Rumah yang dulu penuh warna, dipadati suara gelak tawa, suara debat anaknya yang menolak disuruh tidur karena sudah larut malam. Kini rumah yang rapi bersih itu, layaknya tanah pemakaman; sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saja Ia bisa memilih.&lt;br /&gt;Bukan seperti ini;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 04 Juli 2007&lt;br /&gt;Mugi Subagyo&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581471201873128981-7889172745160087808?l=mugi-cerpen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mugi-cerpen.blogspot.com/feeds/7889172745160087808/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581471201873128981&amp;postID=7889172745160087808&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581471201873128981/posts/default/7889172745160087808'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581471201873128981/posts/default/7889172745160087808'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mugi-cerpen.blogspot.com/2007/07/sunyi.html' title='SUNYI'/><author><name>mugi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02840193125720902474</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/mugigede.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581471201873128981.post-5673556239834515124</id><published>2007-06-28T11:38:00.000+07:00</published><updated>2007-08-02T15:28:46.879+07:00</updated><title type='text'>PEDESTRIAN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jalan khusus yang memang dibuat untuknya, tidak lagi dapat dilalui tanpa bersinggungan dengan kendaraan bermotor roda dua. Para pengendara itu saling bersaing untuk posisi di muka, meski mereka tahu apa yang menanti di depan; nyala merah dari lampu lalu lintas, atau jalan yang penuh sesak oleh kendaraan lain. Lumrah buat kondisi waktu, saat jam kerja usai, di kota yang telah berumur banyak; Jakarta. Meski sayang, umur yang disandang kota ini, nyaris tidak ada kebijakan menyertai. Sulit buat “Pedestrian”, tapi ia harus tetap meniti langkah.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di luar sangat gelap. Tidak tersisa kemilau cahaya dari matahari yang siang tadi membuat tanah di jalan jadi debu, panas yang memompa keluar cairan dalam tubuh. Hari belum lagi malam, atau mungkin malam dirangkul awan hitam hingga bergabung menjadi kegelapan merata yang demikian pekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mendung tak berarti hujan” gumamnya nyinyir, mengingat bait syair sebuah lagu pop. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi alam tidak bertindak atas keinginan manusia, meski diucap berulang. Alam punya “hukum”nya sendiri. Dan, sore itu pun hujan tumpah. Dimana saja, tak ada yang luput dari curah airnya. Sang Pedestrian tetap berjalan, tanpa perubahan gerak langkah yang dipercepat. Ia hanya berjalan lunglai menerima pasrah atas miliknya yang dirampas; miliknya berupa “hak” untuk berjalan nyaman, melangkah aman. Sesekali ia harus berhenti untuk sekedar memiringkan tubuh guna dapat melewati kendaraan yang mengambil haknya, hak pejalan kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria ini belum cukup dikatakan tua, tapi garis-garis di pipi menampakkan jelas gambaran perjuangan yang sering dialami. Rambutnya belum lagi memutih, hanya saja terlihat lugas benturan atau hempasan terpahat di kening. Tubuhnya tegak, dengan bahu kekar dan legam oleh sengatan matahari; sayang, kurus tubuhnya menghalau keperkasaan yang dimiliki. Kini ia seperti abu di atas tunggul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarak menuju ke rumahnya masih berbilang tombak, kendati ia paksakan kaki untuk melangkah. Tak dapat ia temukan sisa tenaga, dan ia pun berhenti. Di depan pagar sebuah bangunan besar, ia bersandar pada dinding, merosot duduk dengan kedua lututnya menopang di jalan bergenang air. Untung angin berpihak padanya, mengalihkan lari air ke samping dan ia terbebas dari guyuran hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajahnya menengadah, lalu berucap:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuhan, Aku telah berjuang mengalahkan penderitaanku, tapi Kau tiada mau menyingkirkannya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berkah darimu kujadikan kebahagiaan, tapi Kau hapuskan dengan kesengsaraan” nada suaranya mulai bergetar. Kemudian bibirnya bergerak seperti berdoa, namun tidak ada suara yang keluar, hanya dari matanya, doa tersebut dipanjatkan “Tuhan, Aku telah bertobat kepada-Mu dan memohon ampunan-Mu, jika Engkau mengasihiku, berilah Aku kesempatan!” lalu matanya menutup; ia tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengah malam ia terbangun oleh suara pagar besi besar yang digeser sesorang, kemudian meluncur sebuah  mobil besar nan panjang. Rupanya pemilik rumah mewah itu hendak menikmati malam dengan kepunyaannya yang berlebih. Sang Pedestrian bangun, tenaganya telah pulih. Di kepalanya kini tidak ada lagi pikiran-pikiran tentang hal lain, hanya pulang; berjalan kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu ia bangun, kepalanya seberat batu. Ia raba tubuhnya yang panas, tapi rasa dingin luar biasa yang merajainya. Susah payah ia berdiri, menuju pintu yang hanya dua langkah dari ranjang triplek beralas tikar sebagai tempat tidurnya. Rupanya ia hidup sendiri di kamar kontrakan berukuran mini, lebih kecil dari sebuah garasi dengan satu mobil. Pemukiman padat ini memudahkannya untuk dapat memperoleh makan siang dan obat pereda sakit; banyak warung-warung kecil, dan ia menuju ke salah satunya, warung terdekat yang biasa ia datangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siang pak Tejo! Kok tumben bangun siang? Tegur Mpok Eti, pemilik warung. “Bagaimana kemarin panggilan wawancaranya? Sukses tidak? Lanjut Mpok Eti menanyakan, namun dirasakan menusuk oleh Sang Pedestrian yang ternyata mempunyai panggilan dengan nama Tejo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gagal Mpok Eti!” Jawabnya murung sambil meminta nasi dengan dua goreng tempe sebagai lauknya. “Saya ditolak! Katanya keahlian yang Saya miliki, sudah ketinggalan jaman; tidak sesuai dengan misi perusahaan tempat Saya melamar.” Jawab Pak Tejo sambil mengunyah makanan, sambil sesekali mengurut kening yang dirasakan menggumpal, dengan tangan kirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketinggalan jaman gimana Pak?” Mpok Eti terheran-heran. “Gambar tangan Pak Tejo bagus-bagus, lukisan Pak Tejo juga hebat, lalu kurang apa Pak? Cecar Mpok Eti cemas, mungkin khawatir jika Pak Tejo semakin mundur waktu membayar hutang di warungnya, karena belum juga mendapat pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang Mpok! Kata mereka, sekarang ini jamannya komputer, yang bisa membuat pekerjaan jadi jauh lebih cepat.” Ia berhenti sejenak untuk menelan makanan dari rongga mulutnya, kemudian dilanjutkan percakapan tersebut. “Pekerjaan yang paling cepat, bisa saya selesaikan adalah satu minggu, tapi dengan komputer, hanya butuh setengah hari. Coba Mpok bayangkan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mpok Eti terdiam, entah mampu atau tidak ia membayangkan melukis atau menggambar dengan komputer, bagaimana bisa? Berapa lama sekolahnya? Berapa besar biayanya? Akhirnya Mpok Eti hanya diam, sementara tangannya menuangkan air ke dalam gelas, untuk kemudian diserahkan ke Pak Tejo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang benar Pak! Sekarang itu, menggambar jadi sangat mudah, tinggal klik dan geser sana-sini, diolah sebentar, jadi deh gambar yang kita mau.” Sahut seorang anak muda berusia sekitar 18 tahun. “Jadi ibaratnya, sekarang ini kita harus bisa berlari, harus serba cepat! Kalau tidak, maka kita tidak kebagian rejeki.” Ucap anak muda itu terlihat berpengalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya kamu sudah bekerja?” Tanya Pak Tejo yang mencoba yakin dengan perkataan anak tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya sih masih sekolah Pak, tapi kakak pertama saya seorang desainer grafis di kantor tempatnya bekerja, jadi Saya sedikit banyak tahu soal komputer”, kemudian tambahnya “Maka itu, Saya selalu ikuti apa kata kakak Saya, karena dia bilang: ‘Ini jaman komputer, orang harus berlari untuk mendapatkan pekerjaan’, begitu kata kakak Saya, Pak” anak muda itu nampak belum mau berhenti bercerita, tapi Pak Tejo menyudahinya dengan meminta obat ke Mpok Eti, karena dirasa tubuhnya semakin menggigil, entah karena memang udara siang itu belum juga memancarkan panas yang cukup, atau memang dirinya yang sedang sakit, karena kehujanan semalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tolong dimasukkan ke rekening Saya, ya Mpok Eti!” Kelakar Pak Tejo, sebagai pengganti ucapan “berhutang” atas apa yang dibelinya. Kemudian Ia sentuh pundak anak muda tadi, sebagai tanda pamit. “Saya pulang dulu ya!” Lantas Ia pulang; berayun langkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hati-hati pak!” Pesan si anak muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah, Pak tejo, Sang Pedestrian memikirkan apa yang diucapkan anak muda tadi di warung Mpok Eti. “Kita harus berlari”. Bagaimana Saya harus berlari jika kondisi sudah tidak mendukung? Apakah Saya mampu untuk menyerap ilmu baru bernama komputer? Darimana saya memperoleh kesempatan untuk belajar itu? Siapa yang mebiayai Saya buat kursus? Sementara makan sehari-hari Saya sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah… Seandainya Aku dahulu mendengar apa kata istriku, agar mau meningkatkan keahlian, mengasah keterampilan, pasti tidak akan begini kejadiannya” pikirannya melayang ke beberapa tahun silam. Masa dimana istrinya setia menemani Sang Pedestrian dan juga menemani penderitaannya hingga masa-masa emas dilaluinya. Masa Dimana keahliannya dihargai mahal oleh orang-orang kebanyakan, hingga uang yang berlimpah, membuatnya takabur, sombong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa Jaya, masa dimana manusia diuji atas keberhasilannya; sering berhasil menjerumuskan manusia. Uang, kekayaan, kemasyuran dan seks, sanggup membuat manusia berpikir dapat melakukan segalanya mengalahkan takdir. Takdir bahwa manusia harus senantiasa bersyukur, selalu belajar dan menghadapi hidup dengan bijaksana. Sampai akhirnya Sang Pedestrian menceraikan istrinya dengan alasan aneh dibuat-buat; tidak bisa punya keturunan. Padahal saat Ia menceraikan istrinya, usia pernikahan mereka baru berjalan mendekati tahun keempat. Dan selama empat tahun tersebut, Ia jarang sekali menghabiskan waktu bersama dengan istrinya di kamar, untuk saling bersatu rasa, bersatu raga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Ia tak dapat berlari, hanya berjalan dan terus berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Pedestrian merebahkan kembali tubuhnya, Ia coba beristirahat guna kembali berjalan esok pagi, berjalan lagi dan lagi. Sementara kondisi tubuhnya semakin lemah, semakin payah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari dan malam berikutnya berlalu, kelihatannya tak akan turun hujan malam ini. Langit cerah dengan bintang penuh berserakan. Malam ini Sang Pedestrian bermimpi. Dalam mimpinya berkali-kali tangan keabadian menyeruak masuk menyibak tabir surga yang lembayung. Tangan itu memberikan isyarat kepadanya. Sang Pedestrian yang tak mau lagi menderita itupun melepaskan diri dari rangkulan hidup, dan lenyaplah Ia untuk selama-lamanya di jalan yang tak kenal kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Pedestrian mengikuti panggilan itu dan setelah meninggalkan jalan-jalan yang sangat dikenalnya, Ia memulai perjalanan baru, menyusuri jalan besar yang belum pernah diinjaknya; berjalan kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta 28 Juni 2007&lt;br /&gt;Salam Bahagia&lt;br /&gt;Mugi Subagyo&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581471201873128981-5673556239834515124?l=mugi-cerpen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mugi-cerpen.blogspot.com/feeds/5673556239834515124/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581471201873128981&amp;postID=5673556239834515124&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581471201873128981/posts/default/5673556239834515124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581471201873128981/posts/default/5673556239834515124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mugi-cerpen.blogspot.com/2007/06/pedestrian.html' title='PEDESTRIAN'/><author><name>mugi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02840193125720902474</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/mugigede.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581471201873128981.post-6106120303790800614</id><published>2007-06-26T08:47:00.000+07:00</published><updated>2007-06-26T12:11:28.390+07:00</updated><title type='text'>HILANG</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Kak, Saya mau pamit pulang ke kampung besok pagi” pinta Mbak Asih pada istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho! Bukannya kamu sedang sakit? Tanya istriku mencemaskan keadaan wanita muda berusia 24 tahun, yang sudah bekerja di rumah kami selama lima tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaiknya besok kamu pergi berobat ke rumah sakit. Nanti kalau sudah sembuh, Saya tidak akan melarangmu” bujuk istriku seraya memberikan sejumlah uang untuk biaya berobat. “Kalau kamu masih seperti ini, Saya takut ada apa-apa nanti di jalan”. Istriku coba menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Tidak Kak! Saya berobat di kampung saja. Lagipula suami saya sudah mengabari siang tadi, kalau dia akan menjemput saya.” Ucap Mbak Asih bertahan; entah apa alasannya yang membuat dia ngotot untuk pulang esok hari juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajahnya seputih kafan. Saat berdiri berhadapan dengan istriku di tepi meja makan, jelas nampak badannya limbung. Aku sendiri diam saja, memperhatikan percakapan keduanya. Sesekali kulihat tubuh pembantuku ini gemetar, segemetar suara yang dikeluarkan dari bibirnya yang juga pucat, kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak tahan melihat kondisinya, Akupun menceburkan diri dalam percakapan, sekaligus memintanya untuk duduk dekat kami. “Memangnya ada apa Mbak Asih? Kenapa ingin  cepat-cepat pulang? Ada berita apa di kampung, yang memaksamu untuk segera pulang?” Tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada apa-apa kok Ayah!” jawabnya. Dia memang terbiasa memanggilku ayah, untuk membahasakan kepada anak-anakku. Lima tahun bersama, membuat ia jadi bahagian dari keluarga kami. Sedang terhadap istriku, Asih memanggilnya dengan sebutan “Ibu”, kecuali bila tidak di dekat anak-anakku yang saat ini sedang tidur siang; Asih ucapkan “Kakak” sebagai pengganti panggilan “Ibu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi Asih tidak mau merepotkan Ayah sama Kakak.” Matanya tak berani menatap kami, bahkan kepalanyapun ditundukkan dalam-dalam. “Soalnya penyakit Asih sepertinya berat. Jadi biar Asih pulang saja dan tinggal sama Simbok di kampung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski kami sudah coba menahannya, namun sepertinya pembantuku ini tidak akan merubah niatnya. Terpaksa kami mengijinkan dengan syarat-syarat yang harus dipenuhi. Salah satu syarat mutlak adalah: Dia tidak boleh pergi dari rumah, kalau suaminya tidak menjemput. Kedua, Kalau suaminya besok datang, Asih harus sudah berobat pagi atau siang hari sebelum kedatangan suami. Syarat ketiga, Suaminya harus istirahat satu malam sebelum pergi keesokan hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diapun mengangguk tanda setuju. Kemudian kembali pergi ke belakang, nampak hendak mengerjakan sesuatu. Langsung saja istriku meneriakinya “Asih! Sudah kamu gak usah cuci piring dulu! Istirahat saja, nanti biar Saya yang mengerjakannya!” tapi perkataan istriku tak diindahkannya. Langsung istriku bangun dari kursi menghampiri dan menggandeng tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya ampun! Badan kamu panas seperti ini” Istriku tidak jadi menggandeng Asih, tapi langsung menuju kotak obat, kemudian meminumkannya. Asih manut saja. Tidak lama kemudian iapun pergi ke lantai atas menuju kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan paginya kami disibukkan kegiatan rutin sehari-hari untuk bekerja. Saya pergi ke lantai dua untuk mandi, karena dari kamar mandi lantai dasar terdengar suara istriku yang sedang mandi. Sekilas kulewati kamar Asih. Dia tidak sedang tidur, tapi duduk bersandar sambil membaca majalah atau tabloid langganan istriku. Tidak ada pikiran buruk di kepalaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama bekerja, tidak pernah satupun kesalahan dibuatnya. Kalaupun ada, hanya soal selera masakan, yang akhirnya ia ikuti selera kami. Dia juga yang rajin menunggui istriku ketika melahirkan anak kami yang kedua. Dia yang rajin membersihkan kotoran sisa persalinan, tanpa ada rasa jijik. Dia pula yang dengan sabar, tidak pernah menjatuhkan tangan kepada anak kami yang mulai tumbuh besar dengan segala keingintahuannya. Dia benar-benar mempermudah urusan kami di rumah. Kecuali dua minggu belakangan ini, dua minggu sejak ia jatuh sakit, praktis pekerjaan yang biasa ia tangani menjadi pekerjaanku juga istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya Asih pulang, karena semua syarat yang kami ajukan telah dipatuhinya. Kami memberikannya bekal berupa pakaian layak pakai, dari tumpukan baju istriku yang jarang dipergunakan, Aku memberinya ongkos untuk transportasi mereka berdua, juga biaya pengobatan Asih selama di kampung. Aku menduga, seperti juga harapan Asih, bahwa ia akan kembali paling lama dua minggu dari kepulangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari saja tanpa Asih, Aku sudah tersiksa dengan badan letih, karena harus mencuci pakaian, mencuci piring dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Istriku juga tidak kurang letihnya menyetrika pakaian, merapihkan kamar dan banyak lagi. Jadi kami sepakat untuk mencari pembantu harian yang dapat menggantikan Asih untuk sementara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan, kami dapat Atin, dari penyalur pembantu rumah tangga yang ada di dekat rumah. Atin rupanya tetangga kampung Asih di Pacitan, sebuah tempat di ujung timur pulau Jawa. Dia tahu banyak tentang Asih dan keluarganya. Dari dia-lah kami tahu perkembangan Asih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Atin kami tahu tentang suami Asih yang sudah tidak bekerja sebagai nelayan lagi, karena majikannya bangkrut, hingga terpaksa menjual perahu motor yang salah satunya digunakan Suami Asih untuk mencari ikan. Atin juga cerita tentang Suami Asih yang pemalas, bisanya hanya minta uang dari istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu kemudian datang surat dari Asih, isinya mohon bantuan kami untuk pengobatan Asih di kampung. Kami kirimkan sejumlah uang cukup besar, mengingat biaya pengobatan di kampung relatif lebih murah dibandingkan dengan Jakarta, tempat kami tinggal. Atin mengetahui hal tersebut, lalu mengatakan sesuatu yang mengurangi keikhlasan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah..Pak, kenapa dikasih? Paling-paling uang itu dipakai suaminya” ucap Atin meragukan Asih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa! Kami ikhlas kok memberinya.” Usahaku meyakinkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi istriku menanyakan lebih jauh “Memangnya sampai seperti itu? Asih tega membohongi kami dengan beralasan sakit, untuk meminta sejumlah uang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya Bu! Lihat saja! Tidak lama lagi pasti suaminya datang kesini buat minta uang lagi” ucapan Atin penuh keyakinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata benar! Belum seminggu dari kami kirimkan uang, suami Asih datang ke rumah. Menunggu di halaman depan, dan langsung menyampaikan maksudnya untuk meminta uang kembali. “Buat berobat Asih” katanya. Tapi kami ragu, jadi kami putuskan tidak bisa membantu dan hanya membantu ongkos pulang suami Asih. Saya katakan, kalau Asih seharusnya sudah kembali bekerja satu dua hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atin tidak kelihatan seharian ini. Minggu pagi biasanya dia sudah kembali ke rumah kami, karena dia tidak menginap. Atin selalu pulang sore hari dan kembali keesokan pagi. Tapi sampai siang tidak kelihatan batang hidungnya. Kami tidak mencurigainya, sampai istriku menanyakan beberapa perhiasan yang ia taruh di lemari, kini tidak ada lagi. Aku membantu mencari di beberapa tempat, dimana istriku biasa meletakkan barang-barang berharga. Barang- barang itu lenyap. Begitu pula Atin, dia tidak ada di tempat kakaknya mengontrak rumah. Dari tetangganya kami ketahui bahwa Sabtu malam, mereka sudah pindah kontrakan, namun tidak ada yang mengetahui kemana mereka pindah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terbayang kecewanya istriku, “Bukan soal cincin atau kalung Ibu yang hilang, Ayah! Tapi Ibu sudah memberikan kepercayaan kepadanya.” Sambil menahan sakit hati. “Dan diantara benda-benda yang hilang, juga ada cincin kawin kita, Tega sekali dia!” kulihat rahang istriku menggelembung menahan amarah. Aku juga tidak dapat menahan kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari setelah kehilangan, masih ada rasa getir di hati kami, hingga kami putuskan untuk tidak mudah menerima pembantu di rumah, bahkan bila Asih kembali. Kami akan terapkan segala sesuatunya seperti kami baru mengenal Asih; tidak percaya 100%! Cukup percaya sedikit saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulang dari kantor, saya lebih lambat dari istriku, karena jam pulang kantor kami berbeda. Kudapati suasana di rumah sepi, bahkan suara anak-anak yang biasa bercanda di ruang keluarga, juga tidak ada. Kucari ke atas, kulihat kedua anakku sedang memeluk ibunya yang sedang menangis sesenggukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu, kenapa Bu?” tanyaku cemas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita berdosa Ayah! Kita berdosa! Dosa kita besar Ayah!” jerit istriku memilukan, dan belum sempat kutanyakan perihal dosa yang telah kita perbuat, anakku memberikan jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbak Asih meninggal Yah! Kena Tipes (Thypus), itu suratnya!” tangan anak pertamaku menunjuk surat yang tergeletak di lantai, rupanya istriku tadi menjatuhkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya Ayah, Mbak Asih mati!” kata anakku yang paling kecil, Aku melotot padanya, tidak setuju dengan penggunaan kalimat yang diucapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubaca surat itu. Isinya permohonan maaf dari Suami Asih, karena Asih sudah tidak lagi bisa bekerja, Ia sudah dipanggil Yang Maha Kuasa. Juga permintaan maafnya, karena merasa telah menyusahkan kami sekeluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulipat kembali surat itu dan kumasukkan ke dalam amplopnya yang berprangko senilai Rp. 1500,-, kemudian kulihat stempel pos tertanggal 22 Juni 2007, tiga hari dari hari ini. Hari dimana kami merasa kehilangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 25 Juni 2007&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581471201873128981-6106120303790800614?l=mugi-cerpen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mugi-cerpen.blogspot.com/feeds/6106120303790800614/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581471201873128981&amp;postID=6106120303790800614&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581471201873128981/posts/default/6106120303790800614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581471201873128981/posts/default/6106120303790800614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mugi-cerpen.blogspot.com/2007/06/hilang.html' title='HILANG'/><author><name>mugi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02840193125720902474</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/mugigede.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581471201873128981.post-8553702711969649075</id><published>2007-06-25T10:39:00.001+07:00</published><updated>2010-07-01T00:00:31.613+07:00</updated><title type='text'>Tentang Puisi yang Berapi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di lantai dua rumahku, di sebuah ruang tempatku menyusun buku yang disusun rapi dalam lemari. Diantara tumpukan dokumen, ada sebuah kotak dari kardus yang selalu kubersihkan; seingatku itu bekas kotak sepatuku, dibelikan bapakku dua puluh tahun yang lalu. Biasanya kotak itu hanya kubersihkan dengan kain lap, itupun sudah lama sekali, lalu kuletakkan kembali. Kali ini rasanya aku berkesempatan untuk membuka dan melihat isi dalamnya. Lebih banyak piagam penghargaan atas nilai-nilai bagus dan prestasiku di bidang ilmu pasti. Kejuaraan Matematika, penghargaan Fisika terbaik, Kimia, Biologi, Geografi dan Astronomi, hanya satu lembar kertas tua yang agak kekuningan dimakan usia; sebuah puisi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Sambil bersila, kubuka kertas yang dilipat dua tersebut, di pojok kiri atas tertulis “Untuk yang terbaik”, di kiri bawah ada namamu; Ariwidya Indreswari, wanita pertama yang merampas hatiku, membuatku tertelikung rasa cinta yang tak menentu. Kubaca puisi itu, puisi tentang penolakan atas tawaran cintaku. Puisi yang membuatku terbakar api kesedihan dan amarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ada sembilu tertanam di kalbu&lt;br /&gt;Ketika kau minta tubuhku, bukankah telah kuberikan hatiku&lt;br /&gt;Usahaku ternyata sia-sia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin persahabatan erat membuatmu ragu akan umurnya&lt;br /&gt;Engkau harapkan keabadian yang pasti&lt;br /&gt;Namun tiada pernah akan kau dapat yang pasti, kecuali mati&lt;br /&gt;Cukuplah kau katakan itu, jangan dilanjutkan&lt;br /&gt;Impianmu membuat ragu jalan hidup yang akan kau tempuh&lt;br /&gt;Nelangsa batin rela kujalani&lt;br /&gt;Tapi jangan kubur aku, lemparkan saja aku ke padang datar&lt;br /&gt;Atau jauh ke tengah lautan&lt;br /&gt;Ingin aku bebas, jangan kau sekap aku dalam kubur&lt;br /&gt;Meski jasadku tercabik dibawa hewan pemangsa, aku rela&lt;br /&gt;Untukmu yang menunggu jawabku&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kenangan itu membetot mundur ke masa dua puluh tahun lewat. Ada tawaran kerja untukku di Jakarta, dengan imbalan yang tinggi, apalagi buat kita yang tinggal di pinggir Jogjakarta. Lantas kukatakan bahwa aku lebih menyukai kota kita, lebih menyukai bekerja di sini, lebih menyukai dekat denganmu, karena engkaulah dian semangatku. Kau yang menyemangati saat aku tak mampu menciptakan sebuah rumus singkat matematika, kau yang membantuku mengumpulkan bahan untuk penelitian tanaman, mencarikan buku-buku referensi karena aku tak mampu untuk membeli dan tak terhitung bantuanmu padaku. Padahal aku hanya sekali saja membantumu, itupun saat kita masih anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu kamu menangis ketakutan di atas pohon Jambu Batu, karena dua tangkai di bawahmu ada tiga anak lelaki yang menakutimu, mungkin hanya sekedar menggodamu, karena Widya Kecil adalah “anak aneh” yang suka bicara dengan pohon, bercanda dengan hewan. Tapi aku tak peduli tentangmu, aku hanya kasihan. Jadi kupanjat pohon dan kuhajar mereka satu persatu, hingga ketiganya jatuh. Dua diantaranya patah tulang lengannya. Aku tak peduli, lalu pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore harinya kudapatkan buah atas tindakanku, Bapak yang mendapat pengaduan dari orang tua anak-anak tadi, menghajarku dengan apa saja yang di dekatnya: batang bambu, sapu lidi, ikat pinggang, tangan dan kaki bapakku juga entah berapa kali berkunjung di tubuhku. Aku tak tahu apa yang kurasakan saat itu, karena membuka matapun aku tak sanggup, hanya kudengar suara ibu yang menangis. Aku hanya ingat, tidak satupun yang kukatakan tentangmu Widya, tidak kukatakan bahwa aku membela “anak aneh” yang diganggu. Tidak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya kau menyaksikan pelajaran yang kuterima sore itu, kau menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah besar kamu lebih menyukai seni, puisi, drama, tari dan hal-hal lembut lainnya. Kamu hanya berubah kaku, tegas, penuh semangat, saat melihatku kesulitan. Kau selalu tahu, dan itu sebabnya saat pertama kali kutanyakan padamu “Darimana kamu tahu kalau aku punya masalah? Apa teman-temanku memberitahumu?” dengan sedikit tersinggung. Mana ada lelaki yang mengeluh minta bantuan pada seorang wanita, kecuali dia tak memiliki harga diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semua orang bisa tahu isi hatimu, kamu orang yang jujur, berani dan teguh memegang prinsip, tapi juga bodoh” mantap sekali kau katakan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bodoh?” Dengan nilai di sekolah yang selalu tinggi, tentunya aku heran mendengar pernyataan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Bodoh!” matanya nanar menatapku “Kamu pikir dengan semua nilaimu yang selalu tinggi di sekolah itu bisa membuatmu berhasil? Tanyanya serius. “Tidak! Tak pernah ada yang berhasil hanya bermodal itu semua” dan lanjutnya “Hanya ketekunan yang bisa membuatmu jadi Orang!”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan selanjutnya kita berteman. Persahabatan yang berat sebelah menurutku. Kamu memliki perhatian lebih terhadap apa-apa yang kulakukan dan mendukung sepenuhnya. Tapi aku tak memiliki sedikitpun ketertarikan atas apa yang kamu sukai: Tari, puisi, drama dan ah.. apalagi! aku tak suka semua itu. Tapi kamu setia merajut hari bersamaku, hingga kusadari telah tumbuh benih cinta di lubuk hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat saat memintamu bersedia menerima cintaku, dengan kesungguhan hati. Kau masuk kamar, sebentar kemudian keluar dengan membawa kertas yang kau lipat dua, “Ini jawabanku. Jangan kau buka disini! Terserah dimana kamu akan membacanya, tapi jangan disini!” Wajahmu yang senantiasa ceria, kini muram dengan ucapan “sekarang, pulanglah! Giliran aku menanti jawabmu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Widya, sesungguhnya aku tidak langsung pulang seperti pintamu. Aku tinggalkan rumahmu, tapi aku berhenti tak jauh darinya. Kubaca surat itu dengan keberanian yang kupaksakan. Dan akupun hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, jauh dari kotamu telah kudapatkan hidup yang lebih baik, dan kunafikkan dirimu. Kubuang jauh tentangmu. Bahkan kupindahkan orangtuaku dari kotamu ke kotaku, agar tak perlu lagi kukunjungi kota yang melukai hatiku. Kamu telah kulupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah! Ayah kok melamun?” Tanya istriku membuyarkan permainan ingatanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh.. Ibu” agak gugup kupandang wanita yang lima belas tahun sudah menemani hidupku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa Yah?” istriku mendekat, kulihat matanya melirik pada kertas yang masih kupegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini, Ayah lagi baca ‘surat cinta’ pertama yang Ayah terima, lebih tepatnya surat penolakan” ucapku terdengar pahit, tak bisa lagi kusembunyikan rahasia tentang surat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh Ibu baca?” tanpa menunggu jawaban, istriku menggamit kertas yang kupegang, akupun tak berusaha mencegahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat istriku membaca. Awalnya tenang, kemudian tersenyum. Seperti senyum kemenangan, karena dengan penolakan itu, maka kini aku menjadi suaminya. Huh! Mengapa kali ini aku tak senang melihat senyum istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah, mau tidak Ayah cerita tentang perempuan ini? Perempuan yang nama belakangnya sama dengan nama belakang anak kita.” Pinta istriku yang sekaligus membuatku kaget dan tersadar. Memang, nama belakang Widya, kupakai sebagai nama belakang anak pertamaku yang kini sudah gadis. Lantas, kuceritakan semua tentang Widya. Penuh khidmat istriku mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah semua kuceritakan, istriku kembali tersenyum, namun berbeda. Senyum ini mencibir seperti hendak mengatakan kalau aku bodoh, dan ternyata benar dari ucapan istriku “Ayah..Ayah!” ucapnya sambil menggelengkan kepala. “Dasar pemuja ilmu pasti! Yang seperti ini saja bingung” ucap istriku yang justru membuatku tambah bingung. Kemudian istriku menyerahkan kembali kertas itu, masih tersenyum manis sekali. Sambil mencium pipiku, ia bangkit meninggalkanku dan berkata “Itu kan ‘Akrostik’ Yah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akrostik? Apa pula itu Akrostik? Tak berani kutanyakan hal itu pada istriku yang juga sudah turun ke lantai dasar, takut nampak terlihat bodoh. Lalu kudekati kumpulan buku-buku yang terpajang di rak buku, kucari di kamus, dan pada lembar sastra kudapati arti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akrostik : Puisi yang huruf-huruf awal pada setiap lariknya menciptakan suatu kata atau kata-kata jika dibaca dari atas kebawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tergesa-gesa kubaca kembali puisi yang membuatku bingung dan nelangsa selama dua puluh tahun, dengan mengikuti terjemahan dari Akrostik. Aku ternganga karena terkejut. Rupanya ini isi puisi dari orang yang sangat kucintai, isi yang tersirat, sungguh berbeda dengan yang tersurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat itu hanya berbunyi  “AKU MENCINTAIMU”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulang-tulang di tubuhku terasa lepas, aku lemas, aku si “bodoh” yang sangat tolol. Tak bisa kubaca pesan yang sangat sederhana itu selama dua puluh tahun, tanpa bantuan istriku, orang yang justru merampasku darimu Widya. Pantas saja temanku berkata tentangmu saat aku menghadiri resepsi pernikahannya tiga tahun lalu. “Widya menunggumu, dia bilang pintu hatinya selalu terbuka untukmu, dan kalaupun tertutup, dia berharap kamu sudah ada di dalamnya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akh.. yang benar kamu? Memangnya dia tidak tahu kalau aku sudah menikah, bahkan sudah punya dua anak?” pancingku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia tahu! Aku sudah memberitahukannya, tapi dia bilang hatinya sudah dibawa olehmu, sehingga tak ada lagi hati yang bisa dia berikan ke pria lain” ucap temanku yang justru kutertawakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, rasa bersalah mengurungku. Bimbang dengan segala yang ada, segala yang kumiliki serasa tiada guna.  Cinta kurasakan sebagai kepedihan yang tersembunyi, kepiluan yang menyayat hati. Perih! Sungguh sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah! Aku sudah selesai belesin mainanku. Sekalang Aku boleh main ke lual ya Yah?” Anakku yang kedua: laki-laki, masuk sambil bertanya dengan ucapannya yang masih cadel, belum bisa mengucapkan huruf “R”. Wajahnya polos, lugu, lucu, menyiram bara api yang menggelora dalam sekam. Kupeluk dia, kuciumi. Tangisku menjadi. Anakku heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum anakku itu menanyakan sebabnya kumenangis, kuajak dia ke teras depan sambil memintanya melakukan sesuatu untukku. “Kamu boleh main, tapi bantu ayah dahulu!” kataku dengan kupaksakan keteguhan hati. Kuberikan korek api gas, kuminta ia nyalakan di atas kertas puisi yang kupegang. Wajahnya berbinar, karena jarang-jarang ia boleh bermain api, diapun tahu alasannya, mengingat tangannya pernah terbakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Widya…&lt;br /&gt;Kini puisimu menyala…&lt;br /&gt;Penuh api!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 24 Juni 2007&lt;br /&gt;Mugi Subagyo&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581471201873128981-8553702711969649075?l=mugi-cerpen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mugi-cerpen.blogspot.com/feeds/8553702711969649075/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581471201873128981&amp;postID=8553702711969649075&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581471201873128981/posts/default/8553702711969649075'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581471201873128981/posts/default/8553702711969649075'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mugi-cerpen.blogspot.com/2007/06/tentang-puisi-yang-berapi.html' title='Tentang Puisi yang Berapi'/><author><name>mugi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02840193125720902474</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/mugigede.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581471201873128981.post-1594438907923229019</id><published>2007-06-25T10:30:00.000+07:00</published><updated>2007-06-25T10:38:08.554+07:00</updated><title type='text'>BADAI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ayah bukan membantu mereka! Ayah justru membunuh jiwa mereka!” Siraman kata ini membuatku panas, yang tanpa perlu dikipasi, akupun terpancing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak ada orang yang mampu membunuh jiwa orang lain, meskipun kepala mereka dipisahkan dari badan, jantung mereka ditikam, tapi jiwa takkan pernah mati; Jiwa itu kekal!” sambarku.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini tidak terdengar denting gitar yang biasa dimainkan anak-anak remaja di tikungan depan rumahku, tidakpula debat sengit terjadi antara kucing jantan satu dengan lainnya, yang biasa mereka lakukan saat memperebutkan betina ,yang akan ditumpangi demi kelanjutan keturunannya. Sungguh malam tenang, malam yang membuatku larut dalam tumpukan data, gelombang ide, riak-riak keraguan, harap-harap cemas akan batas waktu. Begitu asyiknya Aku, sampai-sampai tak sadar akan datangnya angin ribut. Udara memang terasa gerah; berkali-kali kuseka keringat, bahkan sampai kutanggalkan kaos oblong tipis bolong-bolong yang membuat nyaman dalam peraduan. Lamat-lamat terdengar suara tiang listrik yang dipukul sebanyak tiga kali.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Hmm sudah jam tiga rupanya” gumamku yang masih belum menyadari, hingga hujan mulai turun dengan tetesan yang berat; tersentak aku berkelebat menuju pintu dan jendela untuk menutupnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Pantas saja kurasakan kelainan suasana tadi, rupanya akan ada hujan lebat” pikirku sambil mengunci pintu pagar. Di atas, langit tidak ada warna lain selain hitam, angin tidak memiliki jalan lain selain menabrak kesana-sini layaknya gajah yang baru saja kehilangan penglihatannya akibat tertusuk di kedua matanya, sedangkan jalan kecil depan rumahku; tak ada yang bisa kugambarkan, hanya berupa anyaman rapat dari air yang sepertinya hendak dihabiskan tanpa sisa di awan. Setelah masuk dan mengunci pintu ruang tamu yang hanya berjarak sedepa dengan meja komputer berbentuk lemari, kembali aku kumpulkan ceceran sisa-sisa ide yang sempat buyar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Makalah ini harus segera kuselesaikan, agar besok dapat kulihat senyum bahagia temanku yang membayangkan status karyawan tetap, seperti dambaannya” akupun ikut tersenyum seolah itu adalah kebahagiaanku. Upah yang tidak seberapa dari kerja sampingan ini sungguh menyuguhkan kebahagiaan tersendiri, kebahagiaan sejati; setidaknya itu yang ada dalam pikiran, diperkuat menjadi keyakinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak masuk ke ruangan tempatku bekerja, cahaya melebihi terangnya lampu ruang tamu. Belum sempat otak mencerna apa yang baru terjadi, sebuah suara yang sungguh merontokkan nyali, tepat memalu jantung. Petir disertai Guntur yang berangkulan, pertanda dekatnya kejadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mampu menguasai suasana hati dan pikiran, bangkitku dari kursi tertahan suara pintu kamar yang dibuka, dimana istri dan anak-anakku tidur.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Astaga! Hujannya bukan main! Seru istriku sambil melafalkan do’a memohon perlindungan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Iya Bu! Tapi tenang saja, semua pintu dan jendela sudah Ayah periksa, juga sudah Ayah kunci, Ibu tidur saja kembali—mudah-mudahan hujan segera usai!” kuucapkan kata itu sambil memeluknya, karena tampak jelas ketakutan menggelayuti wajahnya yang tetap saja terlihat manis meski kecemasan merundungnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Bagaimana Ibu bisa tenang Yah? Kalau hujan ini tidak segera berhenti, maka bukan tidak mungkin kita juga akan didera banjir seperti tetangga kampung kita di barat, timur dan selatan yang tahun lalu jadi korban banjir”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Iya benar! Tapi posisi rumah kita belum pernah ada sejarahnya kena banjir, lagipula hujan lebat seperti ini biasanya tidak akan berlangsung lama” Kata ini kuucapkan lebih mirip sebuah doa daripada argumentasi. Di luar sana Alam masih saja menunjukkan kekuatannya dengan menyabung petir terus menerus. Sementara hujan turun dipacu angin yang membuat rumah-rumah di sekeliling tidak tampak lagi, suara kami tenggelam dalam riuh hujan yang menghantam tirai bambu dan atap rendah Gazebo. Pohon Kantil yang seharian tadi menebarkan keharuman bunganya, kini tumbang dibabat petir. Sedetik udara terang-benderang diikuti bunyi dentuman yang menggetarkan lantai keramik tempat kami berpijak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ya ampun Ayah! Rumah kita bisa hancur berantakan kalau petir itu menyambar” pekik istriku yang mendadak merapatkan tubuhnya ke dinding.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ibu,” kataku, “Jangan khawatir. Tak mungkin terjadi apa-apa. Rumah kita masih terlalu rendah untuk disambar petir bila dibandingkan bangunan di belakang rumah, lagipula masih banyak pohon-kelapa di sekitarnya” Ucapku sambil menggandengnya untuk kembali ke kamar guna menemani anak kami yang masih tertidur pulas, tidak terganggu kenyenyakannya, mungkin karena terlalu letih akibat bermain sesiangan tadi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Nah, sudah tenang sekarang?” tanyaku saat kuambil kaos yang tadi kulepaskan, untuk kukenakan kembali, bersamaan hujan yang mulai kehabisan air untuk ditumpahkan dan angin mulai kehabisan tenaganya, bahkan petir tidak lagi terdengar gaungnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Iya, sudah” senyum istriku mulai mengembang, namun dengan mata penuh selidik menatapku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ayah tadi sedang melakukan apa?, selarut ini belum juga tidur?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Biasa!” Jawabku enteng. “Membantu orang membuat tulisan”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Membantu atau menghancurkan?” jelas terdengar sangat ketus pertanyaannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Menghancurkan bagaimana?” tanyaku tersinggung. Belum pernah istriku mengucapkan hal-hal yang menyakitkan sehubungan dengan kegiatanku membantu orang dengan menulis.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ayah bukan membantu mereka! Ayah justru membunuh jiwa mereka!” Siraman kata ini membuatku panas, yang tanpa perlu dikipasi, akupun terpancing.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Tak ada orang yang mampu membunuh jiwa orang lain, meskipun kepala mereka dipisahkan dari badan, jantung mereka ditikam, tapi jiwa takkan pernah mati; Jiwa itu kekal!” sambarku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Baik! Ibu ralat, Ayah mengerdilkan jiwa mereka!, dengan dalih membantu, sebetulnya Ayah hanya bermaksud mengambil keuntungan dari mereka!” tuduh istriku sungguh-sungguh.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Mengambil keuntungan? Bagaimana mungkin? Ayah tidak pernah meminta bayaran yang tinggi kepada siapa saja yang memerlukan bantuan untuk tulisannya” dalihku membela diri sambil bertanya dalam hati mengenai efek yang mungkin timbul dari rasa kaget, takut, cemas. Adakah hal itu bisa berpengaruh langsung terhadap jiwa seseorang, jiwa istriku terutama.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Memang Ayah tidak mengambil keuntungan secara materi, tetapi Ayah mengambil kesempatan mereka untuk belajar, kesempatan mereka untuk tahu, kesempatan mereka untuk jadi pintar, setidaknya mereka dapat mempertanggung-jawabkan apa yang mereka ajukan, bila itu mereka buat sendiri dengan idenya, tenaganya.” Tanpa memberiku waktu sela, “Tapi apa yang mereka dapat? Jabatan? Kedudukan? Nilai tinggi di kampus? Okelah.. itu semua mereka bisa dapat. Tapi apakah mereka memang pantas mendapatkannya? Apa mereka berkompeten untuk itu? Ibu jamin: Mereka hanya mengejar kesenangan sesaat—Jabatan atau penghasilan yang mereka terima dari usaha mereka mengkhianati kepercayaan.” Sebuah tamparan keras baru saja dilayangkan oleh istriku, namun masih berlanjut. “Setelah mereka dapatkan apa yang mereka hasratkan, apakah ada keinginan mereka untuk menulis lagi? Baik hal yang berhubungan dengan pekerjaannya? Dengan tugasnya? Atau menulis tentang ide-ide atau gagasan mereka? 100% Tidak!” dengan mata menyala seolah Aku adalah tikus santapan yang akan dilahapnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Lantas! Dimana kesalahan Ayah?” tanyaku bodoh&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ayah masih bertanya?” istriku mencibir. “Coba Tanya, Siapa yang membuat mereka mengambil jalan pintas memenuhi hasrat duniawinya? Bahkan mungkin nafsu sexnya?” Tanya istriku bernada tuduhan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Oke! Kalau hasrat duniawi, tapi soal sex-apa relevansinya?” ucapku sambil menjauh karena tersinggung.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Bukan tidak mungkin Ayah membuatkan seseorang surat cinta, sajak cinta, puisi cinta untuk digunakan menipu orang lain. Ungkapan palsu! Tidak murni! Karena bukan diucapkan dari hati sendiri, melainkan ucapan yang sesuai pesanan guna dapat mereguk tubuh orang yang diincarnya.” Kata-kata ini kurasakan bersayap, lebih terdengar sebagai tuduhan, tuduhan bahwa aku berselingkuh. Tuduhan yang pedih, sepedih gelegar halilintar yang kembali memperlihatkan kekuatannya, dan, angin yang menebarkan gumpalan-gumpalan air hujan, kembali berpusar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ingat Ayah! Ayah bukan pohon Kalpataru, yang dapat memenuhi hasrat orang lain dengan alasan membantu.” Ia mengingatkan Aku tentang sebuah kisah yang kuceritakan padanya, cerita yang pernah ada dari negeri India, tentang sebuah pohon yang hanya berbuah 4 macam: Kekuasaan, Kejayaan, Kekayaan dan Seks. Dimana orang tidak akan pernah merasa puas dalam memenuhi keinginan nafsu duniawinya. Mereka akan terus datang untuk meminta pada pohon Kalpataru salah satu atau mungkin keempatnya, namun mereka akan terus tersiksa dengan keinginannya yang tak pernah bisa terpuaskan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ayah tak pernah berpikir untuk menjadi pemuas nafsu orang lain, terlebih lagi soal seks”, kini bendungan yang menahan gelombang tuduhan, akhirnya ambrol; aku muntab “Ibu selalu menuduh suami berbuat serong, tanpa pikir panjang lagi langsung meyakini prasangka di hati sebagai suatu kebenaran mutlak” tanpa jeda, aku teruskan nafsu amarahku, apalagi kulihat ia ingin mengatakan sesuatu, yang jelas sudah tak ingin kudengarkan, “Ayah kurang apa? Hah! Pulang kerja langsung menjemputmu di kantor, setelah di rumah hanya mengganti sepatu dengan sandal, kemudian mengantarmu kuliah”, raut wajah istri melukiskan ketidaksenangan dengan kebaikan yang diungkit-ungkit, namun aku tidak peduli, “Pulang mengantar, Aku urus anak-anak di rumah, mengurus belajar anak, sementara sambil mengajak adiknya bermain”. Kemudian “Setelah itu menjemputmu dan kembali membantumu mengurus kesiapan anak-anak menjelang tidur; Lantas kapan waktunya yang kamu curigai, untuk suamimu berbuat serong?” Tidak ada lagi panggilan ayah atau ibu antara kami, panggilan mesra yang biasa kami ucapkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kalau orang mau berbuat serong sih, sangat banyak jalannya” kembali istriku berpikir dengan perasaannya. “Dahulu, pulang juga tepat waktu, tidak ada tanda-tanda mencurigakan, tapi nyatanya: hampir tiap malam bikin surat mesra buat wanita lain.” Kini ia mulai mengungkit kisah kelam rumah tangga kami. Lanjutnya “Dahulu belum ada teknologi handphone, internet juga masih satu dua yang menggunakan, tapi bisa kan kamu selingkuh?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kenapa kamu gali masa lalu? Tidak ada relevansinya dengan kejadian sekarang.” Tiba-tiba kurasakan bahwa malam ini akan menjadi malam yang panjang. Langsung ditimpali istriku “Aku tidak bermaksud mengungkit yang lalu, kalau saja kamu tidak mengungkit apa saja yang telah kamu lakukan selama ini” ucap istriku dengan membenturkan pernyataanku sebelumnya, yang telah berubah banyak dan tentang jasaku selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, kami benar-benar bertengkar, sebuah pertengkaran hebat. Istriku sepertinya sudah tidak peduli lagi. Ketika anakku terbangun, ia tetap saja meluapkan amarahnya. Kudekati anak pertamaku yang terbangun karena suara gaduh kami. Kupeluk dia sambil tiduran di sampingnya. “Ayah”, panggil anakku. “Ada apa nak?” tanyaku khawatir, melihat matanya yang digenangi air, siap tumpah sebagai tangisan. “Kenapa ayah bertengkar dengan ibu? Ibu salah apa ayah?” Pertanyaan anakku langsung disambar istriku, “Ayah tidak mau Ibu suruh tidur, malah bicara yang tidak-tidak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam, antara amarah dan bimbang. Marah dengan ucapan istriku dan bimbang menentukan kapan pertengkaran ini berakhir. Ini harus diakhiri. Hujan yang disertai angin ribut dan petir yang saling bekejaran, masih saja sama, sepertinya belum juga akan berakhir. Sementara istriku terus bicara sambil berjalan, sesekali menendang apa-apa yang ia rasa menghalangi langkahnya. Aku tak ingin ini terus berlangsung, setidaknya ditunda. Masa reses biasanya berguna, untuk kami saling mengoreksi diri, juga meredam amarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak lagi mendengarkan apa-apa yang diucapkan istriku. Kucoba diam saja dengan terus menenangkan anakku, hingga kembali terlelap. Kali ini sepertinya adalah klimaks dari amarah istriku. Banyak ucapannya yang bergetar menahan tangis yang tak juga mampu ia tahan; diapun menangis. Senjata wanita dalam debat logika ini, adalah pamungkasnya. Aku luluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahan melihatnya menangis. Wanita yang dahulu kujanjikan kesetiaan, kujanjikan kebahagiaan, bila ia mau menikah denganku; ternyata menangis oleh ulahku. Terlebih lagi saat ia tanyakan tentang cintaku, tentang kasih sayangku. Dia rela diceraikan bila itu semua tak ada. “Akh..! istriku, mengapa ini menyimpang semakin jauh”  batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat istriku ke luar kamar. Dari suara keras yang kudengar, sepertinya ia sedang mengambil air untuk minum. “Semoga air itu bisa menenangkanmu” namun tak kuucapkan, karena pada saat itu ia sudah kembali masuk kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, mau Ibu, Ayah harus bagaimana?” ucapku melunak. “Tapi kita tidak perlu lagi membicarakan hal-hal yang tidak berguna, kita kembali ke masalah awal.” Entah mengapa, badai di luar sana tak lagi mengamuk seperti sebelumnya. Hanya kudengar suara gerimis yang meski pelan, terasa mengiris.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kalau pilihan hidup Ayah ingin menjadi penulis, jadilah secara keseluruhan! Buatlah atas nama sendiri. Kalau tak ingin nama asli, Ayah bisa gunakan samaran. Jangan terus seperti ini! Tidak menghargai waktu, termasuk waktu yang diberikan Tuhan buat istirahat” ucapnya mereda melihat respon positif dari mataku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Baik! Sekarang—Ibu tidurlah! Beri Ayah waktu berpikir.” Pintaku bimbang.&lt;br /&gt;Kini, haruskah Aku menjadi seperti yang diinginkan istriku? Atau terus menerus seperti sekarang? Oh.. Istriku: Aku tidak takut dunia tidak mengenalku, tapi aku takut bila tidak mengenal dunia. Kini engkau menunjukkanku dunia yang lain, sebuah dunia lama, namun baru untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah keyakinan baru timbul menghimpit paradigma lama, meski belum cukup kuat. “Kini aku adalah ombak, jika aku bergulung, maka aku ada.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Sebenarnya, untuk apa Aku hidup?” Lahir, besar, tua lalu mati? Akhh.. pikiran!”. Masih saja pikiran ini berkecamuk, entah menit keberapa sudah kuhabiskan.&lt;br /&gt;Aku merebahkan tubuh di samping istriku yang telah tidur kembali, sementara di luar sana badai sudah berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 23 Juni 2007&lt;br /&gt;Salam Bahagia&lt;br /&gt;-Mugi Subagyo-&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581471201873128981-1594438907923229019?l=mugi-cerpen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mugi-cerpen.blogspot.com/feeds/1594438907923229019/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581471201873128981&amp;postID=1594438907923229019&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581471201873128981/posts/default/1594438907923229019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581471201873128981/posts/default/1594438907923229019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mugi-cerpen.blogspot.com/2007/06/badai.html' title='BADAI'/><author><name>mugi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02840193125720902474</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/mugigede.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
